Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BTN (BBTN) Cetak Laba Rp3,04 Triliun Sepanjang 2022

Laba BTN (BBTN) didukung oleh ekspansi kredit, pertumbuhan dana murah, dan kualitas kredit yang membaik.
Karyawati PT Bank Tabungan Negara memberikan penjelasan mengenai produk perbankan kepada nasabah di Jakarta, Senin (8/12018)./Bisnis-Dedi Gunawanrn
Karyawati PT Bank Tabungan Negara memberikan penjelasan mengenai produk perbankan kepada nasabah di Jakarta, Senin (8/12018)./Bisnis-Dedi Gunawanrn

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BBTN melaporkan laba bersih Rp3,04 triliun sepanjang 2022 atau naik 28,15 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo menjelaskan laba perusahaan didukung oleh ekspansi pinjaman, pertumbuhan dana murah, hingga kualitas kredit yang membaik.

"Laba juga didukung oleh penurunan biaya dana atau cost of fund yang turun 53 basis poin dari 3.13 persen pada 2021 menjadi 2.6 persen," kata Haru, Kamis (16/2/2023).

Sementara itu, dari sisi kredit BTN mencatat pertumbuhan sebesar 8,53 persen yoy. Kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi motor penggerak utama bisnis BTN.

"Total KPR BTN tumbuh 9,23 persen menjadi Rp233 triliun," jelas Haru.

Sepanjang 2022, dana pihak ketiga (DPK) BTN tumbuh sedikit kuat dibandingkan dengan kredit, yakni 8,77 persen yoy, menjadi Rp321 triliun. Kendati demikian, loan to deposit ratio (LDR) BTN masih terbilang tinggi atau 92,65 persen. 

Haru mengatakan pendanaan utamanya didorong oleh kenaikan dana murah sebesar 19,13 persen yoy menjadi Rp156,2 triliun.

“Pertumbuhan bisnis tersebut juga diimbangi dengan penguatan modal, perbaikan kualitas serta peningkatan pencadangan, sehingga bisnis Bank BTN diharapkan terus tumbuh berkelanjutan,” ujar Haru.

Adapun, dengan adanya penambahan modal dari Pemerintah, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tier 1 BTN mencapai sebesar 16,13 persen atau naik 233 basis poin (bps) per 31 Desember 2022.

Kemudian, perbaikan proses bisnis turut menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross BTN sebesar 32 bps  menjadi 3,38 persen. Rasio pencadangan (coverage ratio) bank pun naik dari 141,82 persen menjadi 155,65 persen.

Di samping itu, rasio kecukupan likuiditas (liquidity coverage ratio/LCR) berada di level yang sehat sebesar 238,50 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Alifian Asmaaysi

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper