Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Takut Resesi, Orang Kaya Timbun Uang di Bank

Nilai nominal simpanan nasabah kaya atau simpanan di atas Rp5 miliar per Desember 2022 mencapai Rp4.380 triliun, naik 13,9 persen yoy.
Ilustrasi simpanan milik nasabah tajir atau crazy rich. /Freepik.
Ilustrasi simpanan milik nasabah tajir atau crazy rich. /Freepik.

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat nominal simpanan nasabah kaya tumbuh pesat pada 2022. Menurut LPS, nasabah kaya banyak memupuk dananya di bank karena khawatir resesi ekonomi global.

Berdasarkan data distribusi simpanan LPS, nilai nominal simpanan nasabah kaya atau simpanan di atas Rp5 miliar per Desember 2022 mencapai Rp4.380 triliun, naik 13,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Meskipun jumlah rekeningnya hanya 130.773 rekening, nasabah kaya ini mendominasi nilai simpanan di bank dengan porsi 53,4 persen terhadap total simpanan bank umum.

"Kalau kita lihat trennya tumbuhnya kencang, mungkin mereka [nasabah kaya] agak takut dengan prospek ekonomi ke depan, karena sebelumnya banyak yang ngomong kita akan jatuh, akan resesi segala macam," kata Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Kamis (2/3/2023). 

Kekhawatiran akan resesi itu membuat nasabah kaya banyak memupuk dananya di bank. "Harusnya ketika keadaan tidak seburuk itu, simpanan [nasabah kaya] akan menurun, karena mereka memanfaatkan dananya untuk ekspansi lagi," ujar Purbaya.

Hal ini memang terindikasi dari laporan distribusi simpanan LPS per Januari 2023 yang menunjukkan nilai simpanan nasabah kaya menurun 2,9 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) menjadi Rp4.254 triliun. Meskipun nilai simpanan nasabah kaya per Januari 2023 tetap tumbuh 11,7 secara tahunan yoy, namun pertumbuhannya melambat jika dibandingkan Desember 2022.

"Jadi kalau dari datanya sih memang sedang turun di Januari ini. Dugaan saya adalah, mereka [nasabah kaya] mulai belanja," katanya.

Dia memperkirakan pertengahan tahun ini, nilai simpanan nasabah kaya akan kembali tumbuh pesat.

Sementara itu, peningkatan pesat nilai simpanan nasabah kaya juga seiring dengan tren peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Sejak Agustus 2022, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara beruntun hingga awal tahun ini. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2023, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan bahwa pertumbuhan pesat nilai simpanan nasabah kaya itu juga menandakan adanya ketertarikan dalam mengamankan uang di deposito seiring dengan tren suku bunga tinggi. "Orang cenderung menahan investasi dan menyimpan dalam instrumen deposito. Ketertarikan dapat gain dari special interest menjadi pertimbangan," ujarnya.

Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah juga mengatakan suku bunga acuan BI memang menjadi faktor yang menarik bagi nasabah untuk menyimpan dana di bank. "Suku bunga seringkali menjadi faktor yang sangat berpengaruh, khususnya untuk nasabah besar atau institusi," katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Meski begitu, ada faktor yang lain yang memengaruhi nasabah, seperti faktor layanan dan produk. "Ini juga menjadi hal yang harus diperhatikan," kata Efdinal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Khadafi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper