Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kinerja Membaik, AAUI: Asuransi Harus Bersiap Hadapi 3 Tantangan Tahun Ini

Salah satu tantangan industri asuransi tahun ini adalah mengembalikan kepercayaan publik setelah rentetan kasus gagal bayar.
Karyawan beraktivitas di dekat logo-logo perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Rabu (5/1/2021). /Bisnis-Suselo Jati
Karyawan beraktivitas di dekat logo-logo perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Rabu (5/1/2021). /Bisnis-Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengimbau agar sejumlah perusahaan asuransi mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan pada 2023, meski kinerja perusahaan asuransi bergerak ke arah positif pada Januari 2023.

Ketua AAUI Hastanto Sri Margi Widodo menuturkan pendapatan premi sektor asuransi secara total mengalami pertumbuhan sebesar 5,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai Rp30,55 triliun pada Januari 2023.

Rinciannya, premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 19,8 persen yoy pada Januari 2023 mencapai Rp14,53 triliun, di mana risk-based capital (RBC) asuransi umum tetap terjaga pada level 321,77 persen per Januari 2023.

“Walaupun industri asuransi masih bergerak positif, namun kita tidak boleh terlena dan merasa cukup puas, karena kita harus terus mempersiapkan diri untuk mengantisipasi dan menghadapi tantangan terbesar tahun ini,” kata Widodo belum lama ini.

Widodo, panggilan akrabnya, menyampaikan setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi industri asuransi pada 2023. Pertama, penguatan literasi keuangan.

Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan harus menjadikan peningkatan literasi keuangan sebagai salah satu prioritas.

Berdasarkan data OJK, Widodo menyampaikan penetrasi asuransi di Indonesia pada 2021 hanya sebesar 3,18 persen, terdiri dari penetrasi asuransi jiwa 1,19 persen, asuransi umum 0,47 persen, asuransi sosial 1,45 persen, dan asuransi wajib 0,08 persen.

Sementara itu, data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019 menunjukkan tingkat literasi dan inklusi keuangan masing-masing mencapai 38,03 persen dan 76,19 persen, masih di bawah 50 persen

Selanjutnya, tantangan kedua adalah adanya ancaman resesi global masih menakutkan. “Kita harus membangun optimisme bahwa industri kita dapat mengatasi tantangan ini,” ujarnya.

Widodo menilai bahwa optimisme tersebut diwujudkan dengan upaya industri asuransi untuk menciptakan inovasi produk mulai dari hulu hingga hilir, mulai dari desain produk, pemasaran, pengelolaan dana, hingga perluasan layanan kepada nasabah.

Tantangan terakhir di industri asuransi atau ketiga, yakni membangun kepercayaan nasabah terhadap industri ini.

“Saatnya untuk mendapatkan kembali kepercayaan nasabah terhadap industri asuransi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Rika Anggraeni
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper