MNC Finance Sulit Salurkan Pembiayaan untuk Pemilikan Rumah

PT MNC Finance mengalami penurunan pembiayaan untuk pemilikan rumah atau kredit pemilikan rumah (KPR) dalam jumlah yang signfikan.
Reni Lestari | 23 Juli 2018 13:03 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - PT MNC Finance mengalami penurunan pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) dalam jumlah yang signfikan.

Direktur Utama MNC Finance Suhendra Lie mengatakan portofolio perusahaan pembiayaan di bawah MNC Group tersebut terdiri atas 60% pembiayaan mobil bekas, 30% multiguna, dan sisanya factoring. Sebelumnya, pembiayaan KPR masuk dalam kredit multiguna.

"KPR kecil sekarang. Semua [masuk ke pembiayaan] multiguna," ujarnya di Jakarta, sebagaimana dikuti Bisnis.com, Senin (23/7/2018).

Suhendra mengatakan hal itu disebabkan pihaknya harus bersaing dengan bunga KPR perbankan yang lebih kompetitif. Selain itu kendala lain yakni ketentuan plafon KPR maksimum yang ditetapkan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF.

Dalam menyalurkan KPR MNC Finance diketahui bekerjasama dengan SMF. Sejak SMF menetapkan plafon maksimum untuk pembiayaan KPR sebesar Rp350 juta, MNC Finance sulit menyesuaikan dengan ketersedia rumah di pasaran.

"[Pembiayaan dari] SMF bunga dan tenornya bagus, cuma plafon kreditnya agak susah karena dibatasi Rp350 juta. kami cari rumah dimana yang sudah jadi sertifikatnya, tidak boleh di dalam gang, tidak boleh dekat kuburan dan tidak di daerah banjir," jelasnya.

Dia melanjutkan, saat plafon pembiayaan perunit masih sebesar Rp750 juta, MNC Finance menjadi perusahaan multifinance dengan volume kredit terbesar dengan SMF. "Tahun 2018 sama sekali tidak ada karena kami tidak bisa jual," ujarnya.

Saat ini KPR MNC Finance dipasarkan di lima daerah, yakni Jabodetabek, Semarang, Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

Sementara itu, meski porsi pembiayaan mobil bekas kini masih mendominasi sekitar 60% dari total pembiayaan yang disalurkan, sekitar 30% multiguna dan sisanya factoring.  Ke depan Suhendra ingin memperbesar kontribusi pembiayaan multiguna. Dalam dua tahun ke depan dia memperkirakan, antara pembiayaan mobil bekas dan multiguna akan berada pada angka yang sama.

"Kami akan lebih prioritaskan ke kredit multiguna, karena peluangnya masih besar. Banyak orang yang butuh modal, kami bisa cepat, semingggu bisa cair," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit melambat

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top