Astra & Standard Chartered Jawab Isu Penjualan Bank Permata

PT Astra International Tbk. dan Standard Chartered Bank (SCB) menyatakan bahwa masih berkomitmen untuk menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Permata Tbk.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  07:56 WIB
Astra & Standard Chartered Jawab Isu Penjualan Bank Permata
Seorang karyawati Bank Permata menghitung uang - Antara/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA – PT Astra International Tbk. dan Standard Chartered Bank (SCB) menyatakan bahwa masih berkomitmen untuk menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Permata Tbk.

Dua konglomerasi yang menggengam 89,12% saham Permata itu menepis isu divestasi yang semakin santer diberitakan. Pihak SCB menegaskan bahwa kabar divestasi saham adalah spekulasi pasar.

“Yang dapat kami sampaikan adalah kami optimis terhadap fundamental dan prospek Bank Permata untuk jangka panjang dan kami akan menjalankan peran aktif kami sebagai salah satu pemegang saham untuk mendukung pertumbuhan bank,” demikian mengutip keterangan resmi SCB yang diterima Bisnis, Rabu (23/1/2019).

Sementara itu, Direktur Astra International yang juga menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama Bank Permata Suparno Djasmin tidak merespons pesan singkat Bisnis. Sebelumnya dia sempat menolak memberikan komentar.

Dia menilai divestasi saham hanyalah rumor. “Saya tidak tahu dan tidak bisa berkomentar terhadap rumor,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, pihak Astra yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan belum mendapatkan informasi apapun soal divestasi saham BNLI. Sejak isu tersebut bergulir, Astra belum ada keinginan untuk melepas saham Bank Permata.

PT RHB Sekuritas sebelumnya menilai Mizuho Financial Group (MFG) akan menjadi pembeli potensial Bank Permata. Bank asal Jepang tersebut telah lama memasang mata ke industri perbankan di Tanah Air.

“Kami yakin pemegang saham mayoritas Bank Permata, Astra dan Standard Chartered terbuka terhadap kemungkinan divestasi,” kata analis RHB Sekuritas Alvin Baramuli dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Senin (21/1).

Dalam riset yang dilakukan 20 Desember 2018, Alvin menjelaskan bahwa investasi yang digelontorkan pemegang saham pengendali (PSP) akan lama mencapai titik impas. Pasalnya emiten berkode saham BNLI membukukan pendapatan kurang dari Rp1 triliun.

Alvin menjabarkan, valuasi BNLI tergolong murah dibandingkan dengan bank besar lain. Dengan kondisi saat ini, pemegang saham dapat melepas kepemilikan di bawah satu kali nilai buku atau 1x PBV (price to book value).

Seperti diketahui dalam beberapa tahun terakhir, dua bank dalam negeri telah dicaplok oleh investor Jepang. PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk. dibeli oleh Sumitomo Mitsui Bangking Corporation (SMCB) pada 2013 dengan valuasi 4,5x PVB.

Kemudian pada 2017—2018 Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) menjadi pemegang saham mayoritas PT Bank Danamon Indonesia Tbk. dengan 2x PBV.

JUAL RUGI

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mempunyai pendapat berbeda. Menurutnya, pemegang saham BNLI terbilang jual rugi melepas saham BNLI dengan kondisi saat ini. Namun apabila berbicara kemungkinan, peluang melepas saham Permata memang selalu ada, khususnya untuk SCB.

Dia menilai, berat bagi Astra untuk melepas BNLI. Konglomerasi bisnis kurang lengkap tanpa memiliki bank.

Alfred melanjutkan, wacana penjualan saham dan masuknya investor baru bisa menjadi pendongkrak valuasi BNLI. Otoritas tidak melarang memunculkan wacana pelepasan saham, meskipun pemegang saham mendapat untung dari sentimen positif.

Bisnis mencatat isu pelepasan saham BNLI oleh PSP telah muncul sejak tahun lalu. Setelah perusahaan investasi asal Amerika Serikat, kini giliran bank Jepang disebut-sebut berminat mengakuisisi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank permata

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top