Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BRI Syariah Bagikan Pengalaman dan Manfaat Melantai di Bursa

Perseroan memiliki pengalaman saat melakukan initial public offering (IPO) pada 2018 sebagai proses transformasi jangka panjang.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  15:07 WIB
Karyawan menanta uang rupiah di kantor cabang Bank BRI syariah, Senin (3/7/2017). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan menanta uang rupiah di kantor cabang Bank BRI syariah, Senin (3/7/2017). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank BRI Syariah Tbk. mengajak perusahaaan lain untuk ikut mendukung dan mendorong korporasi di Indonesia untuk lebih maju dan berkembang melalui sarana pendanaan di pasar modal dengan melakukan go public dan mencatatkan efek di Bursa Efek Indonesia.

Direktur Bisnis Komersil BRI Syariah Kokok Alun Akbar mengatakan perseroan menjadi bank syariah anak BUMN pertama yang mencatatkan sahamnya di bursa.

Perseroan pun memiliki pengalaman saat melakukan initial public offering (IPO) pada 2018 sebagai proses transformasi jangka panjang. Perseroan lebih kuat dalam menghimpun dana dan menjaga likuiditas di tengah pandemi melalui pasar modal Indonesia.

"Banyak manfaat yang didapat perusahaan setelah IPO. Antara lain memperkuat struktur permodalan, meningkatkan nilai perusahaan, meningkatkan kepercayaan publik kepada perusahaan, dan meningkatkan loyalitas karyawan. Termasuk lewat program MSOP dan ESOP, etos kerja karyawan meningkat. IPO juga membawa kami pada transformasi yang lebih baik,” papar Alun, dalam siaran pers Kamis (25/6/2020).

Dia melanjutkan dengan dana hasil IPO, BRI Syariah mampu terus mengembangkan bisnisnya. Perseroan memanfaatkan dana IPO murni untuk ekspansi bisnis.

"80 persen untuk ekspansi pembiayaan, 12,5 persen untuk teknologi infomasi, dan 7,5 persen untuk jaringan,” paparnya.

Setelah IPO, BRI Syariah juga mampu meningkatkan kinerja keuangan secara berkesinambungan. Pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) aset sebelum IPO adalah sebesar 14,09 persen, sementara setelah IPO menjadi 16,92 persen.

Pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) juga terjadi di pembiayaan sebelum IPO adalah 6,82 persen, setelah IPO 20,01 persen. Dan CASA pada triwulan I 2020 tercatat 51,06 persen.

"Pada saat sebelum IPO CASA hanya berada di kisaran 30 persen,” jelas Alun.

Dengan dana hasil IPO BRI Syariah terus mengembangkan teknologi infromasi untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Di sisi dana pihak ketiga (DPK), perseroan terus mengembangkan aplikasi mobile banking BRIS Online.

Di sisi pembiayaan, BRI Syariah mengakselerasi internal business process melalui aplikasi i-Kurma.

Selain ekspansi bisnis melalui penyaluran pembiayaan dan pengembangan Teknologi Informasi (TI), dana hasil IPO juga berhasil meningkatkan jumlah jaringan kantor BRI Syariah untuk menunjang ekspansi bisnis bank. Dari 271 unit kerja sebelum IPO, kini jaringan perseroan menjadi 305 unit.

Menurutnya, bagi perusahaan yang berencana go public, ada beberapa detail yang perlu diperhatikan, seperti persiapan yang matang, fundamental perusahaan dan prospek bisnis yang menjanjikan.

"Investor targeting, penunjukan lembaga atau profesi penunjang pasar modal serta pembentukan project management office yang andal pun perlu masuk dalam perhitungan,” tutup Alun.

Adapun, berkat key factor tersebut BRI Syariah mengalami kelebihan penawaran (oversubscribed) saat IPO dan diminati banyak investor. Lebih dari 6.000 investor tercatat sebagai pemegang saham hasil IPO.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasar modal bank syariah ipo bri syariah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top