Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Dua Tantangan Penerbitan Surat Utang di Tengah Pandemi Menurut MTF

Direktur Keuangan MTF Armendra menjelaskan bahwa saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan sejumlah kemudahan bagi perusahaan pembiayaan untuk menerbitkan surat utang di tengah pandemi. Hal tersebut menjadi stimulus bagi industri yang sedang tertekan.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 10 November 2020  |  21:17 WIB
Karyawan melayani nasabah di Kantor Mandiri Tunas Finance, Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melayani nasabah di Kantor Mandiri Tunas Finance, Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — PT Mandiri Tunas Finance atau MTF menilai bahwa terdapat dua tantangan dalam penerbitan surat utang atau obligasi di masa restrukturisasi kredit, yakni meyakinkan investor dan pengelolaan asetnya.

Direktur Keuangan MTF Armendra menjelaskan bahwa saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan sejumlah kemudahan bagi perusahaan pembiayaan untuk menerbitkan surat utang di tengah pandemi. Hal tersebut menjadi stimulus bagi industri yang sedang tertekan.

Meskipun begitu, dia menilai bahwa setidaknya terdapat dua tantangan utama yang akan dihadapi industri jika menerbitkan obligasi saat ini. Pertama, bagaimana memastikan keyakinan investor terhadap surat utang tersebut mengingat saat ini investor akan sangat berhati-hati menempatkan dananya.

"Penerbitan tergantung bagaimana investor melihatnya, keyakinan itu dapat tercermin dari rate yang ditawarkan. Kecuali nanti OJK membantu [memberikan panduan besaran] rate-nya, misalnya berapa basis poin," ujar Armendra kepada Bisnis, Selasa (10/11/2020).

Tantangan kedua terkait dengan kemampuan pengelolaan aset dari perusahaan. Armendra menyebutnya sebagai kemampuan asset management dalam 'membungkus' hasil penerbitan surat utang.

Menurutnya, dalam kondisi likuiditas yang ketat kemampuan pengelolaan aset menjadi kunci agar keuangan perusahaan dapat tumbuh, sekaligus pembayaran kepada kreditur dan investor obligasi dapat terpenuhi.

Armendra menilai bahwa dalam kondisi saat ini, pemerintah pun dapat ikut andil mendorong industri pembiayaan, salah satunya dengan mendorong perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli obligasi dari industri pembiayaan.

"Dulu pernah ada kebijakan BUMN wajib mekiliki obligasi, bisa jadi pemerintah mengarahkan BUMN membeli obligasi [industri pembiayaan] itu," ujarnya.

Saat ini, industri pembiayaan menghadapi sejumlah kendala bisnis, seperti kekurangan revenue karena terjadi penurunan kualitas portofolio. Hal tersebut merupakan dampak dari kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance surat berharga mandiri tunas finance
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top