Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemain Paylater Menjamur, Multifinance Siap-Siap 'Dicaplok'

Apa gunanya mendapatkan izin sebagai multifinance? Jawabannya, regulasi yang telah mapan, fleksibilitas dalam memperoleh pendanaan, dan potensi kerja sama penyediaan fasilitas kredit buat konsumen dari bisnis eksisting yang telah dimiliki.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 14 Januari 2021  |  23:17 WIB
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Menjamurnya perusahaan pembiayaan berbasis digital dinilai, serta para pemain kredit digital dari platform teknologi (e-commerce), dompet digital serta fintech peer to peer yang menyajikan produk paylater, dinilai akan membawa perubahan pada arah industri. 

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyebutkan beberapa perusahaan berbasis teknologi memang tampak tengah membidik multifinance kecil untuk 'dicaplok'.

Pasalnya, perusahaan dinilai akan mendapatkan keuntungan jika memiliki izin sebagai multifinance, antara lain dari sisi regulasi yang telah mapan, fleksibilitas dalam memperoleh pendanaan, dan potensi kerja sama penyediaan fasilitas kredit.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W Budiawan tak menampik bahwa bisnis pembiayaan lewat skema paylater memang menggoda banyak perusahaan teknologi.

Bambang menceritakan bahwa pada awalnya, transaksi paylater banyak disediakan oleh e-commerce dengan menggandeng perusahaan berizin fintech P2P lending untuk merangkul pendana institusi maupun perorangan, yang berperan sebagai lender.

Dalam skema transaksi seperti ini, artinya debitur kredit digital yang membeli barang dengan cicilan paylater tersebut, secara teknis sebenarnya berperan sebagai borrower fintech P2P lending.

"Jadi sebenarnya paylater ini bukan suatu produk tersendiri atau produk baru. Ini adalah skema transaksi biasa, tetapi dikemas dengan nama yang menjual," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/1/2021).

Menariknya, menurut Bambang skema ini memang terbilang kuat, karena pola paylater secara tidak langsung mampu meningkatkan mitigasi risiko bagi lembaga jasa keuangan penyedia kredit digital atau fintech P2P lending yang terkait. Pasalnya, yang menjadi segmen nasabah adalah konsumen toko online yang jelas-jelas membeli sebuah barang, atau merupakan user dari produk teknologi, seperti penyedia jasa ojek online, tiket travel, atau pemilik dompet digital.

"Jadi menghindari side streaming oleh debitur nakal. Karena debitur tidak diberikan cash secara langsung yang berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan lain, kan," tambahnya.

Oleh sebab itu, apabila permintaan pembiayaan yang diraih pemain paylater tersebut semakin lama semakin besar nilainya, berpaling ke sektor multifinance pun dianggap sebagai salah satu solusi.

"Untuk mengembangkan produk paylater ini, beberapa perusahaan berbasis teknologi mulai melirik mengambil alih perusahaan multifinance yang telah mendapatkan izin dari OJK. Selanjutnya multifinance tersebut menawarkan fasilitas pembiayaan multiguna dengan kemasan produk paylater untuk membidik segmen pasar yang telah menjadi target," ungkap Bambang.

Mewakili otoritas, Bambang menilai tren perusahaan teknologi mencaplok multifinance justru baik bagi industri. Pasalnya, secara tak langsung, mereka ikut membantu multifinance pangsa pasarnya kecil, kalah saing, dan masih kekurangan modal, menjadi bertumbuh. "Maka, OJK mendukung pengambilalihan multifinance oleh strategic investor dalam rangka memperkuat kapasitas permodalan dan daya saing multifinance dalam kondisi persaingan yang semakin ketat," jelasnya.

Menurutnya, pengambilalihan multifinance oleh perusahaan berbasis teknologi dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi multifinance karena masyarakat dapat mengakses fasilitas pembiayaan melalui gadget. Namun, dari sisi nominal Bambang menyebutkan penyaluran pembiayaan lewat produk multiguna paylater oleh pemain multifinance murni memang masih terbilang mini, baru menghiasi 1 persen pangsa pembiayaan.

Akan tetapi, lanjutnya, tidak tertutup kemungkinan bahwa persentasenya akan semakin meningkat di waktu yang akan datang sejalan dengan kian banyaknya perusahaan berbasis teknologi yang masuk ke industri pembiayaan, dibarengi multifinance besar existing yang juga mulai membidik pasar digital.

"Saat ini ada beberapa perusahaan berbasis IT sedang melakukan proses pengambilalihan atas multifinance. Jenis perusahaan pembiayaan yang diincar oleh Perusahaan teknologi memang cukup variatif, pada intinya mayoritas perusahaan berbasisi teknologi tersebut mengincar perusahaan yang mau berinovasi dan mampu beradaptasi dengan target market yang baru saat ini," tutupnya.

Berdasarkan survei DSResearch bertajuk Fintech Report 2020 'Maintaining Growth during Pancemic' layanan paylater memang tergolong populer di Indonesia. Riset yang digelar bersama CIMB Niaga, Ayoconnect, dan Investree ini melibatkan 1.434 responden, terbagi dalam sangat paham dan mengetahui soal fintech (8,6 persen), tahu dan paham (18,5 persen), dan cukup tahu (20,6 persen), dan 52,3 persen belum memiliki awareness terhadap fintech.

Dari para responden yang paham terhadap fintech dengan kisaran jumlah 700 orang, awareness terhadap produk paylater menjadi runner-up dengan persentase 72,5 persen, hanya kalah dari e-wallet yang mencapai 82,2 persen. Dari sisi used products pun, paylater lagi-lagi masih menjadi runner-up, digunakan oleh 45,2 persen dari responden, kalah dari digital wallet yang digunakan, mencapai 70,7 persen responden.

Dari sisi awareness masyarakat terkait platform, ShopeePay jadi produk paling populer baik dari sisi top of mind (36,9 persen) maupun total awareness (88,9 persen). Berikutnya, layanan paylater Gojek dan OVO menempati peringkat dua dan tiga, dengan tingkat total awareness masing-masing 82,1 persen dan 72 persen. Disusul Tokopedia (54,2 persen), Traveloka (43,3 persen), Pegipegi (18,1 persen), Kredivo (5,6 persen), Akulaku (4,4 persen), Dana (1,4 persen), LinkAja (0,6 persen).

Sementara itu, dari sisi platform yang telah digunakan oleh para responden, paylater milik Shopee lagi-lagi merajai dengan digunakan 54,3 persen responden. Kemudian disusul Gojek yang lagi-lagi menjadi runner-up dengan 50,5 persen, OVO (28,9 persen), Tokopedia (18 persen), Traveloka (11,3 persen), dan Pegipegi (5,5 persen).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan fintech
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top