Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sering Pakai Paylater? Begini Lho, Skema Bisnis di Baliknya

Konsepnya mirip dengan kartu kredit milik perbankan. Namun, penyedia jasa paylater biasanya menggandeng perusahaan pembiayaan (multifinance) atau P2P lending.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  14:52 WIB
Pandemi Covid/19 berhasil mempercepat transformasi bisnis serta aktivitas jual beli dari tradisional menjadi daring atau online lewat prinsip digitalisasi.  -  Antara
Pandemi Covid/19 berhasil mempercepat transformasi bisnis serta aktivitas jual beli dari tradisional menjadi daring atau online lewat prinsip digitalisasi. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Produk kredit digital atau akrab disebut paylater, kini hampir pasti hadir di setiap aplikasi layanan jasa digital yang populer di Indonesia.

Mulai dari situs dagang elektronik atau e-commerce, penyedia jasa transportasi-logistik, tiket travel, atau pemilik dompet digital, menyediakan produk bertajuk paylater sebagai pelengkap metode pembayaran.

Konsepnya mirip dengan kartu kredit milik perbankan. Namun, penyedia jasa paylater biasanya menggandeng perusahaan pembiayaan (multifinance) atau teknologi finansial peer-to-peer (fintech P2P) lending.

Hal ini dimaksudkan agar setiap masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas cicilan tersebut tanpa persyaratan yang terlalu ketat.

Ambil contoh lima penyedia jasa paylater populer versi survei DSResearch bertajuk Fintech Report 2020 'Maintaining Growth during Pancemic', yakni Shopee, Gojek, OVO, Tokopedia, dan Traveloka.

Paylater telah digunakan oleh 45,2 persen, dengan awareness mencapai 72,5 persen dari 700 orang responden yang telah paham soal fintech.

Paylater dari marketplace Shopee jadi produk paling populer baik dari sisi top of mind (36,9 persen) maupun total awareness (88,9 persen), dan digunakan oleh sekitar 54,3 persen responden.

Shopee menggandeng multifinance PT Commerce Finance selaku pihak penyelenggara pinjaman untuk produk Shopee PayLater.

Gojek Paylater menduduki peringkat kedua dari sisi total awareness (82,1 persen) dan digunakan responden (50,5 persen). Beda dengan Shopee, Gojek menjalin kerja sama dengan platform P2P lending PT Mapan Global Reksa atau Findaya untuk membuat produk paylater miliknya.

Adapun OVO, dikenal oleh 72 persen responden dan digunakan setidaknya oleh 28,9 persen responden survei, sebelumnya memanfaatkan anak usahanya sendiri di bidang P2P lending, yakni PT Indonusa Bara Sejahtera atau Taralite. Namun demikian, OVO kini sedang membekukan produk paylater besutannya.

Paylater milik Tokopedia memiliki awareness 54,2 persen dan digunakan 18 persen responden. Produk Tokopedia Paylater sebelumnya disediakan oleh OVO, namun kini digelar platform P2P konsumtif PT Artha Dana Teknologi atau Indodana.

Terakhir, penyedia jasa travel online Traveloka memiliki produk paylater yang cukup dikenal dengan persentase 43,3 persen responden, dan digunakan oleh setidaknya 11,3 persen responden survei.

Untuk menyediakan jasa paylater, Traveloka menggandeng dua perusahaan sekaligus, yakni multifinance PT Caturnusa Sejahtera Finance dan platform P2P lending PT Pasar Dana Pinjaman atau Danamas.

Selain kelima platform digital penyedia paylater tersebut, setidaknya ada dua multifinance yang juga dikenal lewat branding sebagai pemain paylater murni, yakni Kredivo yang dikenal oleh 5,6 persen responden, dan Akulaku oleh 4,4 persen responden.

Kredivo merupakan merek dagang milik PT FinAccel Finance Indonesia yang sebelumnya berizin sebagai fintech, tetapi kini telah berlisensi multifinance setelah mengambilalih PT Swarna Niaga Finance pada 22 September 2020.

Sekadar informasi, FinAccel kini menggantikan tempat kosong yang ditinggalkan Kredivo di sektor fintech P2P lending dengan brand lain bernama KrediFazz.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit e-commerce fintech P2P lending
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top