Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Naikkan GWM, Ini Dampaknya bagi Likuiditas Perbankan

Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) pada tahun ini diperkirakan berdampak moderat terhadap likuiditas perbankan.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 03 Februari 2022  |  01:47 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia
Ilustrasi Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Normalisasi likuiditas oleh Bank Indonesia (BI) tahun ini melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) diperkirakan berdampak moderat terhadap likuiditas perbankan. Alhasil, ruang untuk penyaluran kredit perbankan diproyeksikan masih luas.

Adapun, sebelumnya BI mengumumkan kenaikan GWM akan dilakukan secara bertahap mulai 1 Maret 2022, yang saat ini sebesar 3,5 persen untuk bank umum konvensional (BUK), bank mum syariah (BUS), dan unit usaha syariah (UUS).

"Terkait dengan kenaikan GWM secara bertahap, kami melihat dampaknya cukup moderat terhadap likuiditas perbankan sepanjang tahun ini," jelas Analis Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto kepada Bisnis, Rabu (2/2/2022).

Dia menjelaskan berdasarkan data statistik perbankan per Oktober 2021, baik di bank komersial dan bank syariah, kenaikan GWM Rupiah bank komersial dan bank syariah akan mengurangi likuiditas sebesar Rp200 triliun sepanjang 2022.

Kemudian, dia menyampaikan likuiditas di sistem perbankan Indonesia, yang ditunjukkan oleh jumlah penempatan dana bank di instrumen moneter open market operation (OMO) BI per akhir Januari 2022, mencapai sekitar Rp920 triliun. Posisi ler akhir bulan lalu itu meningkat hampir Rp150 triliun dibandingkan dengan posisi akhir 2021.

Untuk itu, Rully memprakirakan kenaikan GWM tidak akan berdampak besar terhadap likuiditas perbankan pada tahun ini. Hal itu karena pengurangan likuiditas yang diestimasi sekitar Rp200 triliun, masih akan menyisakan sekitar Rp700 triliun likuiditas di sistem perbankan.

"Dengan likuiditas tersebut bank-bank masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menyalurkan kredit secara lebih agresif, apalagi dengan [loan to deposit ratio] LDR yang masih cukup rendah," jelasnya.

Di samping itu, dia memperkirakan LDR sampai dengan akhir tahun masih akan berada di kisaran 77-78 persen. Hal itu sejalan dengan asumsi Tim Ekonomi Bank Mandiri yakni pertumbuhan kredit dan DPK, yang masing-masing sebesar 6,6 persen dan 6 persen.

Selain itu, Rully menilai dengan pertumbuhan kredit di atas 10 persen pun, serta dengan pertumbuhan DPK yang tetap di level 6 persen, LDR perbankan masih akan tetap terjaga di bawah 85 persen.

Senada, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo turut memperkirakan likuiditas perbankan masih akan melimpah di tahun ini meskipun adanya kenaikan GWM. Menurutnya, hal tersebut terlihat dari posisi Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang diproyeksikan masih akan besar hingga akhir tahun, kendati adanya tahapan normalisasi likuiditas mulai Maret ini.

Pada konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu (2/2/2022), Perry mengungkapkan rasio AL/DPK akhir tahun ini mencapai 30 persen. Rasio tersebut diproyeksikan turun dari besaran saat ini yaitu 35 persen.

"Alat likuid [terhadap DPK] akan turun. Tapi dari 35 persen ke 30 persen. Alat likuid akhir tahun kita perkirakan menjadi 30 persen, dan itu masih juga lebih tinggi dari posisi tertinggi sebelum Covid-19," tutur Perry, dikutip dari YouTube Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI, Rabu (2/2/2022).

Perry menyebut likuditas di perbankan sangat besar saat pandemi Covid-19. Pada saat sebelum pandemi, rasio AL/DPK terbesar hanya mencapai 21 persen.

"Dengan kenaikan GWM ini, likuiditas perbankan masih berlebih, sehingga perbankan masih mampu untuk menyalurkan kredit dan masih bisa membeli SBN untuk pembiayaan APBN," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia giro wajib minimum likuiditas bank
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top