Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Adu Dana Pihak Ketiga di Bank Jumbo, BBCA, BMRI, BBNI, BBRI. Siapa Terbesar?

Nilai simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK) bank-bank kelas kakap yang masuk ke dalam kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV mencapai Rp4.135,03 triliun pada sepanjang 2021.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 20 Februari 2022  |  10:53 WIB
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (5/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (5/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK) bank-bank kelas kakap yang masuk ke dalam kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV mencapai Rp4.135,03 triliun pada sepanjang 2021.

Jika dirinci, DPK bank kelas kakap atau bank jumbo berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero). Tbk. (BBNI).

Berdasarkan laporan kinerja keuangan kuartal IV/2021 dari keempat emiten bank jumbo tersebut, berikut Bisnis himpun raihan DPK sepanjang 2021:

1. Bank Mandiri (BMRI)

Bank Mandiri mencatat pertumbuhan DPK yang kuat pada 2021, yakni sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) secara konsolidasi menjadi Rp1.291,18 triliun. Pencapaian DPK ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri sebesar 12,2 persen yoy.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan pertumbuhan DPK ini utamanya ditopang oleh peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) secara konsolidasi sebesar 19,8 persen yoy.

DPK ini turut berkontribusi menjaga Cost of Fund (CoF) di angka 1,71 persen secara konsolidasi, sehingga rasio CASA Bank Mandiri (konsolidasi) meningkat sebesar 407 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 69,7 persen.

Peningkatan rasio CASA ini, disumbang oleh pertumbuhan dana tabungan yang secara konsolidasi meningkat 12,8 persen yoy dari Rp431 triliun di akhir 2020 menjadi Rp487 triliun serta pertumbuhan giro yang secara konsolidasi meningkat 29,2 persen yoy dari Rp 320 triliun di akhir 2020 menjadi Rp413 triliun pada 2021.

2. BRI (BBRI)

Selanjutnya, DPK yang dimiliki BRI sebanyak Rp1.138,74 triliun pada akhir Desember 2021. Apabila dirinci, tabungan mendominasi sebesar Rp497,68 triliun, giro tercatat sebesar Rp220,59 triliun, dan geposito sebesar Rp420,48 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan fokus BRI mengakselerasi kemampuan dalam menghimpun dana murah membuat rasio CASA meningkat menjadi 63,08 persen pada akhir Desember 2021, angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yakni sebesar 59,66 persen.

3. BCA (BBCA)

Dari sisi pendanaan, CASA yang dimiliki emiten bersandi BBCA ini tumbuh 19,1 persen yoy menjadi Rp767 triliun dan berkontribusi hingga 78,6 persen dari total dana pihak ketiga. Deposito juga tumbuh 6,1 persen yoy menjadi Rp208,9 triliun. 

Secara keseluruhan, total dana pihak ketiga naik 16,1 persen yoy menjadi Rp975,9 triliun, sehingga turut mendorong total aset BCA naik 14,2 persen yoy mencapai Rp1.228,3 triliun.

“Solidnya pendanaan CASA ditopang oleh kepercayaan nasabah, serta kemudahan dan keandalan bertransaksi,” kata Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, baru-baru ini.

4. BNI (BBNI)

Kemudian, emiten bank bersandi BBNI ini mencatat telah menghimpun DPK mencapai Rp729,17 triliun atau tumbuh 15,5 persen yoy.

Tak hanya itu, Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengungkapkan perseroan pada situasi likuiditas yang sangat mencukupi dan jauh melampaui pertumbuhan kredit tahun lalu.

Penghimpunan DPK ini menguat di kuartal IV/2021, meskipun suku bunga simpanan terus menurun. Bekal DPK tersebut membuat BNI memiliki cadangan likuiditas yang tangguh dan siap digunakan jika permintaan kredit meningkat atau pasar obligasi berubah menjadi lebih baik tahun 2022.

Adapun, dana murah BNI juga masih mendominasi DPK, yaitu terjaga pada level 69,4 persen dari seluruh DPK.

CASA terdongkrak hingga 17,1 persen yoy menjadi Rp506,06 triliun. Pertumbuhan dana murah ini mendorong perbaikan Cost of Fund dari 2,6 persen pada akhir tahun 2020 menjadi 1,6 persen tahun 2021,” imbuhnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca bni bri bank mandiri dana pihak ketiga
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top