Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Para Bankir, Ini 3 Faktor Cuan Besar pada 2022 'di Depan Mata'

Kinerja perbankan pada kuartal II/2022 diyakini akan tumbuh positif.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 08 Mei 2022  |  21:02 WIB
Para Bankir, Ini 3 Faktor Cuan Besar pada 2022 'di Depan Mata'
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan bank-bank besar diprediksi mampu memompa laba pada kuartal II/2022 seiring dengan kondisi perekonomian yang terus membaik.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai terdapat tiga faktor yang akan kembali mendongkrak laba perbankan pada kuartal II/2022.

Faktor pertama yakni naiknya belanja masyarakat saat lebaran. Kondisi ini kata Bhima, membuat perusahaan di berbagai sektor mencari pinjaman baru. Faktor kedua, kinerja ekspor komoditas tambang masih terbilang positif sehingga bank lebih percaya diri salurkan kredit modal kerja dan kredit investasi ke debitur existing.

Ketiga, tingkat risiko kredit relatif terkendali dengan mulai menurunnya permintaan restrukturisasi kredit,” kata Bhima, Minggu (8/5/2022).

Untuk menjaga pertumbuhan laba, Bhima menyarankan bank lebih agresif salurkan pinjaman ke sektor properti dan konstruksi, karena pemulihan mobilitas berarti permintaan kredit properti akan membaik.

Kredit KPR, lanjut Bhima, saat ini masih tumbuh di atas 9 persen year on year (yoy). Bank juga perlu memperbesar penyaluran pinjaman ke perusahaan rintisan yang potensial.

“Untuk manajemen risiko perlu diperhatikan sektor usaha atau debitur yang rentan terdampak inflasi pangan maupun energi,” kata Bhima.

Dia menilai lesatan pertumbuhan laba perbankan pada kuartal I/2022, dengan pertumbuhan di atas 40 persen, disebabkan oleh perbaikan kinerja kredit, khususnya naiknya permintaan kredit di sektor industri manufaktur, transportasi, perdagangan, dan pertambangan.

Bhima mengatakan meski penyaluran kredit tumbuh, bank juga perlu terus berusaha untuk perbesar fee based income sebagai tambahan modal.

“Dari sisi pencadangan jauh lebih berkurang dibanding pada saat periode 2020-2021 sehingga laba bisa ditingkatkan,” kata Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG perbankan rekomendasi saham
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top