Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sudah Cetak Cuan, Alami Group Ketiban Berkah Kebutuhan Pinjaman UMKM Syariah 

Pertumbuhan bisnis dan kinerja keuangan yang telah positif pun secara otomatis membawa platform Alami tidak terpengaruh kondisi gejolak yang tengah menimpa iklim bisnis startup saat ini. 
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 29 Juni 2022  |  06:59 WIB
Sudah Cetak Cuan, Alami Group Ketiban Berkah Kebutuhan Pinjaman UMKM Syariah 
Sudah cetak cuan, Alami Group ketiban berkah kebutuhan pinjaman UMKM syariah. - Bisnis.com/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Platform pendanaan bersama (P2P lending) atau pinjaman online (pinjol) klaster syariah PT ALAMI Fintek Sharia (Alami) menyebut ramainya kebutuhan pinjaman dari UMKM berbasis syariah menjadi pendongkrak pertumbuhan bisnisnya, dan membawa platform mampu bertahan sebagai perusahaan rintisan (startup) yang berkelanjutan. 

CEO Alami Group Dima Djani menjelaskan bahwa pertumbuhan bisnis dan kinerja keuangan yang telah positif pun secara otomatis membawa platform Alami tidak terpengaruh kondisi gejolak yang tengah menimpa iklim bisnis startup saat ini. 

Sebagai informasi, gejolak yang sedang menimpa startup pada periode ini terutama berasal dari potensi keringnya kucuran pendanaan investor. Tren ini memaksa startup memperpanjang nafas lewat efisiensi, memperbaiki fundamental bisnis, dan tidak bisa lagi hanya mengandalkan putaran pendanaan baru untuk bertahan hidup. 

"Untuk menjawab tantangan tersebut, Alhamdulillah kami berhasil mencatatkan kinerja positif dan memperoleh penghasilan tahun berjalan periode 2021 dengan kenaikan yang signifikan dibandingkan 2020. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan bisnis Alami yang meningkat pesat, bahkan di tengah pandemi," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (28/6/2022). 

Berdasarkan laporan keuangan Alami periode 2021, total aset tumbuh menjadi Rp13,8 miliar dari sebelumnya Rp7,29 miliar. Dari sisi kinerja laba-rugi, laba kotor Alami tercatat positif Rp7,38 miliar dari sebelumnya minus Rp1,09 miliar. Sementara laba tahun berjalan positif Rp1 miliar, naik ketimbang periode 2020 yang masih minus Rp10,93 miliar. 

Kinerja ini merupakan buah dari peningkatan pendapatan jasa bersih dari Rp4,7 miliar pada 2020 menjadi Rp18,3 miliar pada 2021, walaupun beban penjualan dan pemasaran juga naik dari Rp5,8 miliar menjadi Rp10,9 miliar. Selain itu, beban umum dan administrasi yang naik dari Rp10,3 miliar menjadi Rp16,7 miliar, bisa diimbangi pendapatan lain-lain yang naik pesat dari Rp527 juta menjadi Rp10,3 miliar. 

Dima menggambarkan masifnya kebutuhan pinjaman UMKM berbasis syariah tercermin dari performa penyaluran pinjaman Alami, di mana setelah mencapai akumulasi penyaluran Rp1 triliun pertama dalam waktu hampir 2 tahun sejak berdiri, kemudian mencatatkan Rp1 triliun berikutnya hanya dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan kemudian.

"Tidak berhenti sampai di sana, dalam periode tahun berjalan, Januari 2022 sampai saat ini, kami telah mencatatkan penyaluran pinjaman sebesar Rp1,2 triliun. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa kinerja Alami terus mengalami peningkatan," tambahnya. 

Sebagai informasi, kinerja ini membawa akumulasi penyaluran pinjaman Alami telah menembus lebih dari Rp3 triliun kepada lebih dari 10.000 proyek UMKM berbasis syariah. Jumlah pengguna platform ALAMI pun terus bertambah, yaitu mencapai 95 ribu pengguna.

Menurut Dima, iklim bisnis startup di Tanah Air saat ini memang mirip fenomena dotcom bubble yang muncul pada rentang 1998 sampai 2000. Ketika itu, minat investor berlomba-lomba menggelontorkan dana yang besar untuk mendukung kemajuan perusahaan berbasis internet pun serupa saat ini. 

Namun demikian, Dima mengingatkan bahwa di samping melihat banyaknya perusahaan dotcom yang gulung tikar pada medio 2001, ada pula perusahaan dotcom dengan model bisnis yang sehat, dan nyatanya tetap bertahan sampai sekarang. 

"Momentum ini yang membawa perusahaan teknologi raksasa bertahan dan terus berkembang. Oleh sebab itu, dalam perkembangan startup saat ini, tentunya investor akan memilih untuk berinvestasi pada perusahaan yang dinilai memiliki arah bisnis yang jelas, fundamental yang kuat, serta kinerja bisnis yang sehat," ungkap Dima. 

Alami pun optimistis mampu menjadi perusahaan teknologi yang berkembang dengan berkelanjutan. Dima menyebut optimisme ini ditopang komitmen Alami untuk terus mengembangkan inovasi teknologi dan infrastruktur produk demi mendukung kekuatan pondasi perusahaan, demi memberikan layanan keuangan yang optimal dan memperluas dampak sosial kepada seluruh lapisan masyarakat.

Adapun, terkhusus ekosistem pendukung pelaku usaha berbasis syariah, Alami melihat industri keuangan syariah di Indonesia akan berkembang dengan baik. Hal ini turut didukung oleh potensi industri halal di Tanah Air yang menjanjikan, terutama dari sektor kuliner, farmasi, kosmetik, fesyen, dan pariwisata. 

Namun, ada pula pekerjaan rumah yang masih menghadang pertumbuhan pelaku usaha syariah di Indonesia, seperti masih minimnya upaya meningkatkan laju pertumbuhan akses pembiayaan berbasis prinsip Islam, indeks inovasi nasional yang masih rendah karena terbatasnya teknologi dan infrastruktur, serta masih rendahnya literasi keuangan syariah. 

Sebagai informasi, ALAMI merupakan salah satu pemain elit tekfin P2P lending klaster syariah, yang tercatat resmi berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 27 Mei 2020.

Adapun, Alami Group bukan hanya memiliki tekfin ALAMI, namun juga memiliki Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang disebut Bank Hijra, serta platform akselerator usaha rintisan bertajuk ARQAM. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

syariah umkm StartUp P2P lending pinjol Alami Fintek Sharia
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top