Meski Raup Laba, Bank Digital Masih Absen Tebar Dividen

Sejumlah bank digital tak akan membagikan dividen kepada pemilik saham meskipun mencetak laba bersi
Karyawan beraktivitas didepan logo Bank Jago di Jakarta, Senin (29/3/2021). Bisnis/Abdurachman
Karyawan beraktivitas didepan logo Bank Jago di Jakarta, Senin (29/3/2021). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah bank digital seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO) hingga PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) tak akan membagikan dividen kepada pemilik saham meskipun mencetak laba bersih pada tahun buku 2022.

Bank Jago misalnya telah membukukan laba bersih sepanjang 2022 sebesar Rp15,91 miliar. Namun, dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar pekan lalu (25/5/2023) tak ada mata acara penentuan penggunaan laba bersihnya.

Hanya saja, dalam RUPST itu Bank Jago telah meminta persetujuan laporan tahunan.

"Menyetujui laporan tahunan perseroan termasuk laporan tugas pengawasan Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas Syariah serta laporan aksi keuangan berkelanjutan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2022," tulis Direksi Bank Jago dalam keterbukaan informasi pada Senin (29/5/2023).

Bank Jago juga sebenarnya telah memanfaatkan laba bersih sebesar Rp15,91 miliar untuk menyusutkan saldo defisit perseroan. Per 1 Januari 2022, saldo defisit ARTO mencapai Rp254,54 miliar, kemudian susut menjadi Rp238,57 miliar per 31 Desember 2022.

Bank digital lainnya PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp74,81 miliar sepanjang 2022. Labanya bahkan naik 13,85 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan tahun sebelumnya Rp65,71 miliar.

Namun, bank digital milik PT FinAccel Teknologi Indonesia (Kredivo) itu memutuskan tak membagikan dividen dalam RUPST yang digelar pekan lalu (24/5/2023). Krom Bank akan memanfaatkan laba bersihnya 100 persen untuk menambah saldo laba ditahan atau retained earning perseroan.

PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) juga sebenarnya telah berhasil mencetak laba bersih Rp11,46 miliar pada 2022 setelah membalikan keadaan dari posisi rugi bersih Rp3,05 triliun periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan laba perseroan sebesar Rp11,46 miliar digunakan sebagai laba ditahan. Bank Raya juga masih membutuhkan laba yang dihasilkan itu untuk mengembangkan bisnis dan operasional bank.

Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu memang menyiapkan sejumlah langkah-langkah pengembangan bisnis pada tahun ini. Salah satu strategi bisnis perseroan yakni bersinergi dengan induknya BRI Group.

"Pada 2023 kami gencar bersinergi dengan BRI group agar dapatkan ceruk-ceruk yang saat ini belum dilayani optimal," kata Ida Bagus Ketut Subagia dalam konferensi pers RUPST Bank Raya pada dua pekan lalu (10/5/2023).

Selain itu, Allo Bank telah membukukan laba bersih Rp270,02 miliar sepanjang 2022, naik 40,29 persen yoy dibandingkan laba tahun sebelumnya Rp192,47 miliar.

Namun, bank milik konglomerat Chairul Tanjung belum juga menebar dividen. Allo Bank menyisihkan dana sebesar Rp29,41 juta sebagai dana cadangan dan Rp270 miliar sebagai laba ditahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper