FINANCIAL PLANNING: Merencanakan Biaya Pendidikan

Menyangkut biaya pendidikan, saya memiliki sebuah rekaman pengalaman usang. Kisah pribadi. Begitu tuanya sehingga tinggal seperti film kabur salah gunting. Beberapa gambar tentang alur adegan masih tampak jelas, walau tanggal dan angka mungkin tak lagi
Hasan Zein Mahmud | 30 April 2013 16:16 WIB

Menyangkut biaya pendidikan, saya memiliki sebuah rekaman pengalaman usang. Kisah pribadi. Begitu tuanya sehingga tinggal seperti film kabur salah gunting. Beberapa gambar tentang alur adegan masih tampak jelas, walau tanggal dan angka mungkin tak lagi terbaca.

Di akhir tahun 1969, saya berangkat ke Yogyakarta menenteng mimpi untuk kuliah di sebuah universitas ternama. Mengikuti tes masuk di Fakultas Ekonomi UGM, saya mendapatkan panggilan masuk yang menyatakan saya lulus tes pada 22 Desember 1969, untuk mendaftar ulang selambat-lambatnya 31 Desember, dengan membayar uang pendaftaran, saat itu, sebesar Rp12.000.

Saya bergegas mengirim telegram kepada sepupu saya yang bekerja di BRI Curup, Provinsi Bengkulu, agar disampaikan kepada ayah saya, yang tinggal di kampung kecil di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, agar segera mengirimkan uang pendaftaran.

Saat itu teknologi komunikasi dan perbankan masih sangat primitif. Telepon hanya ada di kantor kecamatan yang berjarak 8 km dari kampung dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Alhasil, uang yang dikirim oleh ayah saya dengan transfer paling cepat lewat BRI Curup, baru saya terima 7 Januari 1970. Terlambat seminggu dari tenggat yang ditentukan oleh Fakultas Ekonomi UGM.

Pada hari terakhir 1969 itu, saya mencoba menghadap Pak Sukadji (Dekan FE UGM saat itu), di Bulak Sumur, untuk meminta penundaan pembayaran uang pendaftaran. Namun saya dicegat oleh sekretariat fakultas. Buyarlah mimpi saya untuk kuliah di universitas yang jadi legenda di kampung saya. Di barisan pohon cemara yang saat itu merindangi jalan utama memasuki Bulak Sumur, saya meneteskan air mata.

Cerita semacam itu, pasti tidak akan terjadi lagi saat ini. Teknologi telah mampu mentransfer uang dari satu rekening ke rekening yang lain dalam hitungan detik. Namun cerita tentang kegagalan menyelesaikan--bahkan gagal memasuki--jenjang pendidikan yang lebih tinggi, karena faktor biaya, tetap merupakan cerita yang aktual. Kegagalan itu sisebabkan oleh tiga hal:

Pertama, ketidakmampuan seorang mahasiswa memperkirakan besarnya biaya yang diperlukan dari mulai masuk perguruan tinggi sampai selesai studi.

Kedua, kegagalan dalam menyesuaikan kemampuan fiannsial orang tua dengan tuntutan biaya yang diperlukan anak didik.

Ketiga, absennya pengetahuan tentang perencanaan keuangan di klalangan mahasiswa, termasuk peluang untuk mencari penghasilan sendiri untuk menbiayai kebutuhan kuliah.

Pendidikan di Indonesia, saat ini, telah menjadi barang dagangan. Biaya pendidikan melambung di awang awang. Pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, 20% APBN tiap tahun dialokasikan untuk sektor pendidikan.

Namun pendidikan tetaplah barang mewah. Alih alih pendidikan tinggi, di tataran pendidikan dasar saja, misalnya, saya bisa menyebutkan sebuah sekolah di kawasan Simprug, Jakarta Selatan, yang membebankan biaya untuk kelas 1 sebesar Rp6 juta per bulan, dibayar setiap 3 bulan, dan pembayaran harus dilakukan 2 bulan di depan! Dan siswanya luar biasa ramai.

Perguruan tinggi ternama di Indonesia, sekarang memang mengumumkan dengan resmi biaya pendidikan untuk tiap jenjang pendidikan, baik untuk program reguler atau program khusus, setiap tahun ajaran. Namun biaya kuliah baru merupakan sebagian--mungkin sebagian kecil--dari biaya yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.

Keluhan tentang mahalnya biaya pendidikan juga terjadi di negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, biaya pendidikan meningkat dua kali lebih tinggi ketimbang inflasi (College Board Report 2008 dan Jo Lauber 2012). Namun pada sisi lain, negara maju tersebut menyediakan banyak sekali fasilitas bagi mereka yang serius memiliki komitmen untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Kita simak beberapa contoh:

o> Pemerintah dan swasta memberikan fasilitas student loans. Pinjaman yang diberikan kepada siswa/mahasiswa untuk membiayai pendidikan, yang pembayaran kembali dipotong dari gaji setelah mereka bekerja. Fresh graduate di Amerika Serikat, pada 2010, rata-rata memiliki utang dalam bentuk student loan debts, sebesar US$24.000, pada saat mereka menyelesaikan kuliah (Jo Lauber op cit)

o> Berbagai keringanan perpajakan

o> Qualified Tuition Program (529 Plan). Tax Preferred basis bagi dana yang disisihkan untuk tujuan pendidikan

o> Pemerintah Obama mengembangakan program The American Opportunity Credit yang memperkenankan pengeluaran untuk biaya pendidikan dianggap sebagai 100% tax credit sampai dengan jumlah US$2.000, 25% untuk US$2.000 berikutnya sampai jumlah tertentu.

o> The Lifetime Learning Credit: Offers a tax credit of 20 percent of your tuition and fees up to $10,000, for a maximum credit of $2,000 per income tax return

o> Beasiswa dan bantuan pendidikan (scholarships and student aids) yang banyak tersedia, baik dari pemerintah dan dunia usaha maupun dari lembaga karitas.

o> Fasilitas penunjang pendidikan seperti dormitory, perpustakaan, fasilitas penelitian, olah raga dll

o> Perlakuakn khusus bagi siswa dan mahasiswa dengan prestasi khusus di bidang seni, olah raga dll.

Bagi remaja Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi menghadapi kendala biaya, berikut beberapa tips berdasar pengalaman saya pribadi.

Pertama, upayakan mampu mengenal minat, bakat dan keunggulan pribadi. Ini akan memudahkan kita memilih institusi pendidikan yang kita minati. Beberapa institusi juga menyediakan bantuan pendidikan untuk siswa/mahasiswa dengan bakat khusus.

Kedua, pilihlah kota tempat studi. Akan menentukan biaya tinggal/kos, biaya konsumsi, dan biaya transportasi. Jangan lupa kota yang mencatat biaya hidup tinggi, uang kuliah pun akan ditetapkan lebih mahal. Dari segi ini, dulu, Yogyakarta dipopulerkan menjadi kota pelajar.

Ketiga, pilih institusi pendidikan yang tepat. Institusi pendidikan yang besar belum tentu paling baik. Sering tidak ramah, padahal pendidikan sering membutuhkan pendekatan yang personal.

Keempat, pelajarai dengan serius kemungkinan mendapatkan bea siswa, dari pemerintah, dunia usaha, lembaga karitas maupun dari institusi pendidikan itu sendiri.

Kelima, kuasai salah satu ketrampilan yang memungkinkan kita self-employment, mencari duit sambil kuliah. Saya dulu mengajar paro waktu di beberapa SLTA, memberi les privat dan menjadi asisten dosen. Beberapa teman membiayai kuliahnya dengan menjadi guru piano dan melatih satu cabang olah raga.

Keenam, aktivitas sosial, termasuk kegiatan ekstrakurikuler punya dua sisi. Sisi positif bisa memperbanyak teman, meluaskan jaringan, mengasah bakat, juga tersedia dana untuk mendukung kegiatan kegiatan tertentu. Tapi waspadai sisi negatif: merokok, minuman keras dan pesta.

Ketujuh, manfaatkan secara optimal fasilitas yang disediakan oleh institusi, seperti perpustakaan, laboratorium, ruang dan fasilitas belajar, sarana olah raga, sarana penelitian, dan bank data.

Kedelapan, tidak kalah penting dari semua itu, menyusun perencanaan keuangan yang realistis dan disiplin dalam mematuhi anggaran
Pentingnya pendidikan makin disadari dari generasi ke generasi, tapi pemenuhan biaya pendidikan nampaknya akan tetap merupakan persoalan abadi di negeri tercinta ini…

o> Hasan Zein Mahmud adalah Tim Ekselensi Learning Center dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top