Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tuntaskan Backlog Rumah, Butuh Rp2.600 Triliun

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Maryono memperkirakan total dana yang dibutuhkan untuk menutupi backlog perumahan mencapai Rp2.600 triliun.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 12 Februari 2014  |  11:14 WIB
Tuntaskan Backlog Rumah, Butuh Rp2.600 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA—Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Maryono memperkirakan total dana yang dibutuhkan untuk menutupi backlog perumahan mencapai Rp2.600 triliun.

Dia menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Seminar Kiat Pendanaan KPR Saat Bunga Tinggi yang digelar oleh SMF dan Bisnis Indonesia, di Hotel Ritz Carlton, Megakuningan, Jakarta, Rabu (12/2/2014).

Menurutnya, backlog perumahan saat ini tercatat sebanyak 15 juta unit. Pertumbuhan permintaan rumah sebanyak 800.000 unit setiap tahun dengan pasokan sebanyak 300.000 unit per tahun.

“Kalau backlog 15 juta unit ini diekuivalensi rata-rata harga rumah baik KPR subsidi maupun non-subsidi, maka membutuhkan dana sekitar Rp2.600 triliun, ini potensi yang luar biasa,” ujarnya.

Untuk itu, sambungnya, bank khususnya BTN mengharapkan agar kebutuhan backlog tersebut dapat terpenuhi. Sedangkan bagi pengembang, katanya, semakin banyak backlog akan memastikan permintaan akan terus tinggi.

Potensi yang besar tersebut, masih mungkin terus berkembang. KPR dapat dijual dalam waktu 15-20 tahun dan pasti dapat dibayar karena penjaminan yang diberikan adalah KPR lancar dengan bunga yang tetap.

“Untuk antisipasi pendanaan, harus bekerjasama dengan SMF,” jelasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpr Pendanaan KPR
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top