Bisnis Asuransi Rangka Kapal Minus pada Kuartal I/2018

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia berharap lini bisnis asuransi rangka kapal dapat tumbuh 10% pada tahun ini, kendati pendapatan premi tercatat minus pada kuartal I/2018.
Azizah Nur Alfi | 24 Juni 2018 15:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia berharap lini bisnis asuransi rangka kapal dapat tumbuh 10% pada tahun ini, kendati pendapatan premi tercatat minus pada kuartal I/2018.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menunjukkan, pendapatan premi lini usaha rangka kapal pada kuartal I/2018 tercatat Rp433,99 miliar atau minus 8,5% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 474,51 miliar.

Pendapatan premi lini usaha tersebut berkontribusi 2,6% terhadap total pendapatan premi asuransi umum.

Sementara itu, klaim lini usaha rangka kapal pada kuartal I/2018 tercatat Rp272,52 miliar atau meningkat 21,36% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp224,55 miliar.

Adapun, rasio klaimnya tercatat 62,8% pada kuartal I/2018 atau meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 47,3%.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menyampaikan, lini bisnis marine hull atau rangka kapal semakin menurun karena risiko underwriting yang semakin tinggi.

Rasio klaim mencapai 80% sehingga ada beberapa perusahaan asuransi menghentikan penerbitkan polis asuransi rangka kapal.

Dia mengatakan, secara umum usia kapal-kapal di Indonesia semakin tua. Belum lagi, ketidakataan pemilik kapal terhadap class maintenance. Hal ini menyebabkan potensi klaim meningkat.

"Ke depan, AAUI melakukan koordinasi dengan BKI [Biro Klasidikasi Indonesia] agar standar class maintenance ditingkatkan dan dapat ditaati. Kebetulan AAUI masuk dalam anggota Majelis BKI dan Komite Teknik BKI," katanya pada Kamis (21/6/2018).

Dia menjelaskan, faktor underwriting dalam asuransi rangka kapal di antaranya usia kapal. Dengan kondisi usia kapal tua, maka bahan pendukung dan mesinnya sudah mulai rapuh serta manuver yang sudah tidak lincah.

Faktor berikutnya, terdaftar dalam vessel class. Hal ini berarti institusi yang mencatatkan kapal tersebut telah melakukan verifikasi dan validasi sehingga kapal tersebut dianggap layak beroperasi sesuai peruntukkannya.

Faktor lain, class maintenance rutin dengan melakukan perawatan docking secara berkala sesuai jadwal yang disyaratkan dalam class maintenance.

Selain itu, trading area, di mana untuk kapal-kapal yang sehari-hari berada atau melewati perairan-perairan berbahaya dengan gelombang tinggi akan semakin berisiko.

"Apabila kondisi di atas dapat dikendalikan, maka underwriter akan berpendapat risiko obyek pertanggungan [kapal] relatif terkendali, sehingga potensi klaim diprediksi rendah," imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, AAUI berharap kepada kebijakan pemerintah dalam membuat pengaturan tentang kapal. Selain itu, ada dorongan pemerintah agar mewajibkan penggunaan kapal nasional dapat menambah kapal-kapal baru di Indonesia.

Dengan demikian, harapannya pertumbuhan positif pada lini bisnis rangka kapal tahun ini dapat tercapai.

"Kami estimasi prospek semua lini bisnis asuransi tumbuh konservatif 10%, termasuk asuransi rangka kapal," katanya.

Tag : marine hull, asuransi umum
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top