Morgan Stanley : LinkAja Punya Potensi Besar dalam Pertarungan Bisnis Uang Elektronik

Perusahaan finansial Morgan Stanley menilai LinkAja memiliki potensi besar untuk bersaing dalam peta pertarungan uang elektronik. Pasalnya, masing-masing pihak yang terlibat dalam mengembangkan platform ini memiliki kekuatan besar.
Muhammad Khadafi | 10 April 2019 13:07 WIB
Menteri BUMN Rini Sumarno (kedua kiri), Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kedua kanan), Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga dan Direktur PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) Danu Wicaksana berbincang usai mencoba langsung aplikasi layanan keuangan elektronik LinkAja dalam ajang BNI Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Minggu (3 - 3). Layanan keuangan elektronik berbasis quick response code (QR code) bernama LinkAja merupakan gabungan layanan pembayaran elektronik dari beberapa badan usaha milik negara (BUMN).

Bisnis, JAKARTA — Perusahaan finansial Morgan Stanley menilai LinkAja memiliki potensi besar untuk bersaing dalam peta pertarungan uang elektronik. Pasalnya, masing-masing pihak yang terlibat dalam mengembangkan platform ini memiliki kekuatan besar.

Dalam riset Morgan Stanley berjudul LinkAja:New Digital Payment Contender from SoEs yang dikutip pada Rabu (10/4/2019), platform LinkAja memiliki potensi sangat besar karena didukung oleh banyak pihak yang sebelumnya sudah memililiki basis nasabah besar.

Telkomsel memiliki lebih dari 112 juta pelanggan per Juni 2018. Sebanyak 25 juta di antaranya merupakan pengguna T-Cash, yang berpotensi menjadi konsumen LinkAja.

Sementara itu, Bank Mandiri memiliki basis pelanggan yang kuat. Bank pelat merah tersebut adalah penguasa pasar uang elektronik berbasis kartu di Indonesia. Setidaknya, Bank Mandiri telah menerbitkan 16 juta keping kartu uang elektronik.

BRI sebagai bank yang fokus menyalurkan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki keunggulan untuk menjangkau daerah terpencil dan perdesaan. Hal ini akan sangat berguna untuk menyentuh populasi dengan akses keuangan rendah.

Mengenai infrastruktur, BNI merupakan bank yang cukup serius menggarap digitalisasi perbankan. Bank pelat merah ini adalah yang pertama kali menerapkan metode pembayaran berbasis kode QR dan dompet elektronik.

Selain memiliki keunggulan-keunggulan sistem yang siap diintegrasikan, LinkAja milik BUMN juga memiliki pasar yang terbilang matang. Penetrasi awal sistem pembayaran ini dapat mengandalkan ekosistem perusahaan milik negara.

Sebanyak 6.000 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina akan menjadi tempat yang menarik. Terlebih, saat ini pemain dominan dompet elektronik, seperti Go-Pay dan Ovo, belum berhasil bermitra untuk menjadi penyedia jasa pembayaran di SPBU.

Kementerian BUMN juga memiliki basis karyawan yang hendak dimanfaatkan untuk meningkatkan aktivasi serta penggunaan LinkAja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech, LinkAja

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top