Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

NPL Pinjaman Online Tertinggi Sejak 2018, AFPI: Tak Pengaruhi Kinerja Industri

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia atau AFPI menyatakan bahwa kenaikan tingkat pinjaman macet atau non-performing loan industri fintech peer-to-peer bidang pembiayaan atau P2P lending tidak akan membebani laba perusahaan.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 08 Mei 2020  |  11:48 WIB
Pengunjung menghadiri acara FinTech for Capital Market Expo 2019 di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (19/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Pengunjung menghadiri acara FinTech for Capital Market Expo 2019 di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (19/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -  Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia atau AFPI menyatakan bahwa kenaikan tingkat pinjaman macet atau non-performing loan industri fintech peer-to-peer bidang pembiayaan atau P2P lending tidak akan membebani laba perusahaan.

Berdasarkan Statistik Fintech OJK, industri fintech P2P lending mencatatkan non-performing loan (NPL) sebesar 4,22 persen pada Maret 2020 atau bulan pertama penyebaran virus corona yang tercatat oleh pemerintah.

Nilai NPL atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) tersebut tercatat meningkat dari bulan-bulan sebelumnya pada tahun ini. Pada Januari 2020, nilainya tercatat sebesar 3,98 persen dan pada Februari 2020 menjadi 3,92 persen.

Ketua Harian AFPI Kuseryansyah menjelaskan bahwa peningkatan NPL tersebut tidak akan mengganggu kinerja perusahaan-perusahaan fintech secara langsung. Hal tersebut karena risiko tersebut ditanggung bersama dengan pemberi pinjaman (lender).

"Peningkatan porsi bad account ini tidak berdampak langsung terhadap laba rugi fintech P2P lending, karena peningkatan portfolio bermasalah ini akan didistribusikan dan di-absorb ke berbagai lender," ujar Kuseryansyah kepada Bisnis, Kamis (7/5/2020).

Dia menilai bahwa peningkatan NPL industri fintech P2P lending perlu dilihat berbeda dari peningkatan NPL perbankan atau non-performing financing (NPF) dari industri pembiayaan (multifinance).

"Hal inilah yang menjadi pembeda, karena bagi bank atau multifinance, NPL itu akan langsung berdampak pada laba rugi perusahaan," ujarnya.

Kuseryansyah menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 memberikan dampak lintas sektoral, tak terkecuali terhadap industri jasa keuangan seperti fintech P2P lending. Hal tersebut membuat catatan NPL fintech mencapai titik tertinggi.

NPL industri fintech P2P lending pada Maret 2020 itu menjadi yang tertinggi sejak Januari 2018. Tahun sebelumnya, catatan tertinggi terjadi pada Desember 2019 sebesar 3,65 persen dan dua tahun lalu, catatan tertinggi terjadi pada Agustus 2018 sebesar 1,89 persen.

Hingga Maret 2020, outstanding pinjaman fintech tercatat senilai Rp14,79 triliun. Jumlah tercatat tumbuh 12,4 persen (year-to-date/ytd) dari posisi akhir 2019 senilai Rp13,15 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan fintech
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top