Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Mengembangkan Keuangan Berkelanjutan

Sejumlah bankir seperti dari BNI, BCA, dan SCB menyambut baik rencana pemberlakuan insentif khusus bagi perbankan untuk mendorong pengembangan keuangan berkelanjutan.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 25 Juli 2020  |  17:32 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang masih belum mereda, dinilai menjadi momentum untuk medorong pengembangan ekonomi yang berladaskan prinsip-prinsip keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Pandemi menjadi momentum bagi pengembangan ekosistem keuangan berkelanjutan, yang tahun ini memasuki tahap kedua di Tanah Air.

Direktur Human Capital dan Kepatuhan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Bob Tyasika Ananta menyebutkan perseroan menyambut baik rencana pemberian insentif dari OJK dalam pengembangan sistem keuangan berkelanjutan. 

Namun, terlepas hal tersebut, Bob berpendapat pelaku industri pun perbankan harus menilai pandemi virus corona secagai momentum perbaikan perhitungan risiko. Apalagi pandemi ini bahkan mampu membuat ekonomi terpuruk resesi sehingga pada akhirnya berdampak negatif pada kinerja perbankan seperti pertumbuhan kredit, kualitas kredit, hingga beban pencadangan.

“Pandemi ini memang hal yang perlu kita perhatikan dan menjadi momentum untuk menerapkan keuangan berkelanjutan. Apalagi ekonomi kita terganggu dari sisi permintaan dan pasokan secara bersamaan,” katanya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Bob memaparkan perseroan saat ini sudah menyalurkan sekitar Rp134 triliun kredit hijau dan masih akan terus mengmbangkan pembiayaan segmen ini.

“Dengan implementasi keuangan berkelanjutan saat ini, kami juga sudah mampu menekan penggunaan listrik sebesar 37.674 MWh, dan masih bnayak lagi pencapaiannya,” sebutnya.

Sebelumnya, Deputi Komisioner Internasional dan Riset OJK Imansyah mengatakan OJK akan menyusun insentif serta membentuk satuan kerja keuangan berkelanjutan nasional dalam implementasi tahap II pengembangan ekosistem keuangan berkelanjutan mulai 2020 hingga 2024.

Pihaknya tidak hanya fokus pada sosialisasi, penguatan kapasitas perbankan, atau kajian berdasarkan laporan sementara dari perbankan, tetapi juga mendorong daya saing dengan penyusunan insetif dan penguatan integrasi.

“Kami yakin pengembangan keuangan berkelanjutan ini tidak cukup hanya dengan award atau pelatihan. Kami juga tengah menyusun berbagai insetif baik fiskal maupun non-fiskal. Kami juga menyiapkan organisasi kelembagaan yang terintegrasi untuk membangun platform yang lebih komprehensif,” katanya dalam Webminar LPPI bertema Implementasi Keuangan Berkelanjutan Pasca Pandemi Covid-19, Rabu (22/7/2020).

Setali tiga uang dengan BNI, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyambut baik rencana pemberian insentif dalam mendorong implementasi keuangan berkelanjutan.

“Tapi kita tunggu aturannya saja dulu. Kami tidak mau mendahului yang belum pasti,” ujarnya.

Hingga Juni tahun lalu, kredit hijau yang disalurkan BCA telah mencapai sekitar Rp105 triliun. Adapun, baki kredit yang disalurkan tersebut tumbuh 6% secara tahunan.

Sementara itu, rektor di Universitas Indonesia yang juga Wakil Komisaris Utama/Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Ari Kuncoro mengatakan relaksasi ATMR pun perlu dipercepat. 

Menurutnya, insentif tersebut mampu membuat bank lebih agresif dalam mencari potensi sektor ekonomi yang masih memiliki potensi pengembangan, atau berpotensi mebggeliat pada paruh kedua tahun ini.

Dia pun berpendapat segmen UMKM khususnya di sektor industri pengolahan dan pariwisata memiliki potensi untuk mendapat pinjaman tampa membebani perbankan.

“Khususnya untuk pelaku usaha di industri pariwisata sepeti perhotelan dan transportasi yang juga bisa masuk kategori keuangan berkelanjutan. Sektor ini hanya perlu membutuhkan sistem kerja yang inovatif dan pembiayaan untuk menggeliatkannya kembali. Apalagi, orang akan tetap berliburan cepat atau lambat,” paparnya.

Berdasarkan BRI Sustainability Report 2019, total pembiayaan yang masuk dalam kriteria bisnis berkelanjutan mencapai Rp492,87 triliun.

Terpisah, CEO Regional untuk Standard Chartered Bank di ASEAN dan Asia Selatan Judy Hsu sebelumnya mengatakan pihaknya akan terus mendorong implementasi keuangan berkelanjutan.

"Dengan memanfaatkan jaringan global dan kemampuan lokal kami, kami berharap dapat mengkatalisasi pembiayaan SDG dan memberikan pembiayaan berkelanjutan ke area-area yang paling penting. Kawasan ASEAN dan Asia Selatan adalah rumah bagi beberapa negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia, meskipun kami juga menghadapi beberapa masalah lingkungan dan sosial yang paling mendesak di dunia,” katanya.

Dia menyebutkan Standard Chartered pun telah memiliki berbagai penawaran produk keuangan berkelanjutan yang dapat digunakan untuk membantu klien memutar bisnis mereka menuju model yang lebih berkelanjutan.

“Per Oktober 2018 perusahaan telah membentuk tim Keuangan Berkelanjutan dan juga telah meluncurkan produk simpanan berkelanjutan di London, Singapura, Hong Kong, dan New York, serta Obligasi Berkelanjutan 500 juta euro yang hasilnya digunakan untuk menyediakan pembiayaan di bidang yang selaras dengan SDG - termasuk proyek energi bersih, pinjaman usaha kecil dan pinjaman keuangan mikro,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit OJK
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top