Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

6 Langkah Investree Tekan Kredit Macet di Era New Normal

Demi 'ketenangan' para Lender dan menekan angka kredit macet, Investree akan terus menjalankan setidaknya enam langkah strategi mitigasi risiko penyaluran pinjaman secara berkelanjutan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  17:23 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pendanaan Fintech Bersama Indonesia yang juga CEO Investree Adrian A Gunadi, memberikan penjelasan pada diskusi Digital Economic Forum di Jakarta, Kamis (28/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Ketua Umum Asosiasi Pendanaan Fintech Bersama Indonesia yang juga CEO Investree Adrian A Gunadi, memberikan penjelasan pada diskusi Digital Economic Forum di Jakarta, Kamis (28/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Investree Radhika Jaya (Investree) akan terus menjalankan strategi mitigasi risiko penyaluran pinjaman secara berkelanjutan demi menekan angka kredit macet.

"Kami sadar di masa seperti sekarang ini, para Lender mungkin merasa khawatir di mana pandemi telah menghambat laju perekonomian dan menyulitkan para Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)," ujar Adrian Gunadi, Co-Founder & CEO Investree kepada Bisnis, Selasa (28/7/2020).

Pasalnya, statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mencatat adanya fenomena tren penurunan tingkat keberhasilan pengembalian pada hari ke-90 (TKB90) dari para penyelenggara fintech peer-to-peer (P2P) lending selama pandemi Covid-19.

Baca Juga : Akhir Semester I/2020, Investree Klaim Kualitas dan Penyaluran Pinjaman Tetap Stabil

Mulai Maret 2020, persentase TKB-90 masih di angka 95,78 persen, kemudian turun ke angka 95,07 persen per April 2020, dan terakhir turun lagi ke angka 94,9 persen pada Mei 2020.

"Sebab itu, kami melakukan mitigasi risiko secara strategis dan berkelanjutan untuk melindungi para lender dan aset mereka sesuai dengan arahan dari otoritas dan asosiasi," tambah Adrian.

Adrian menjelaskan bahwa Investree setidaknya akan memastikan enam hal yang akan terus berjalan. Pertama, menguatkan model bisnis yang berfokus pada pembiayaan rantai pasokan kepada UKM dengan fokus produk Invoice Financing dan Pre-Invoice Financing.


"Memang benar, Invoice Financing masih mendominasi portofolio pinjaman di Investree. Hal tersebut dikarenakan produk ini sangat sesuai dengan situasi serta model bisnis UKM di Indonesia dan merupakan alternatif pendanaan rendah risiko bagi para lender," jelasnya.

Sekadar informasi, pinjaman dengan jenis Invoice Financing diajukan berdasarkan tagihan (invoice) atas pekerjaan yang sudah selesai dan sedang menunggu pembayaran oleh Payor.

Strategi ini akan dilengkapi dengan langkah kedua, yakni berfokus menerima pengajuan pinjaman berisiko rendah dari industri tertentu dan/atau Borrower atau Payor yang sudah teruji rekam jejaknya demi meningkatkan kepastian pembayaran pinjaman di Investree.

"Dalam hal ini, kami menjamin bahwa Payor atas invoice tersebut rata-rata adalah perusahaan dengan reputasi bagus dan kokoh dalam hal keuangan, sebut saja BUMN, Pemerintah, dan perusahaan multinasional sehingga memiliki kemampuan yang bagus dan kuat untuk membayar invoice tersebut," tambah Adrian.


Ketiga, Investree juga memperkuat pemeliharaan akun terhadap industri terdampak dan keamanan pembayarannya, serta melakukan analisis dan verifikasi pinjaman dengan menggunakan sistem credit-scoring yang sudah teruji.

Keempat, dalam hal ini Investree secara kontinu melakukan stress test untuk melihat kondisi ketahanan portofolio yang di dalamya termasuk analisis setiap sektor untuk masing-masing industri peminjam, pemilihan Payor yang bereputasi, dan pembagian portofolio pada masing-masing produk.

"Dari tes tersebut, diperoleh hasil bahwa sampai dengan saat ini kondisi Investree masih terkendali dan dapat diatur dengan baik. Tentunya dengan fokus bisnis Investree pada pembiayaan UKM yang menyasar rantai pasokan, berbeda dengan produk modal kerja angsuran," tambahnya.


Dua strategi terakhir, yakni meningkatkan kolaborasi dengan rekanan asuransi, dan terus melakukan manajemen perusahaan yang andal dengan operasional yang taat tata kelola perusahaan dengan mayoritas pimpinan dan anggota berpengalaman lebih dari 15 tahun di dunia perbankan.

Dengan setidaknya enam strategi ini, Adrian menjamin bahwa berdasarkan tren Borrower di Investree yang menemui jatuh tempo, satu persatu akan mengembalikan pinjamannya sehingga angka TKB90 akan mendekati 100 persen.

"Ditambah lagi, dari segi product suite, produk pinjaman di Investree memiliki risiko yang rendah, karena tadi, berfokus pada pembiayaan rantai pasokan berbasis invoice dari Payor yang merupakan perusahaan bonafide seperti BUMN, Pemerintah, perusahaan multinasional atau terbuka. Sehingga risiko gagal bayar mampu termitigasi," tutup Adrian.

Dalam statistik real time yang diunggah Investree, angka TKB90 masih berada di 97,25 persen. Sementara dari total 1.385 borrower, baik individu maupun institusi, nilai pinjaman tersalurkan selama Investree berdiri telah mencapai Rp4,47 triliun, yang Rp3,78 triliun di antaranya telah lunas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fintech Investree peer to peer lending
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top