Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OJK: Perbankan Perlu Bertransformasi Jika Tak Mau Ditinggal Konsumen

Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital Sukarela Batunanggar mengatakan disrupsi teknologi yang akan terjadi harus segera diantispasi oleh perbankan. Setidaknya ada tiga dampak disrupsi yang dia sebutkan.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 18 Agustus 2020  |  15:50 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Industri jasa keuangan yang tidak melakukan transformasi akan ditinggal oleh konsumen atau hanya mampu melayani sektor tertentu saja.

Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital Sukarela Batunanggar mengatakan disrupsi teknologi yang akan terjadi harus segera diantispasi oleh perbankan. Setidaknya ada tiga dampak disrupsi yang dia sebutkan.

Pertama, sektor jasa keuangan akan dihadapkan dengan disruptive bisnis model. Teknologi finansial 10 tahun lalu dengan saat ini sangat berbeda terlihat dari adanya lembaga jasa keuangan baru selain bank yang menawarkan layanan terintegrasi, cepat, dan nyaman.

Kedua, adanya teknologi dan Covid-19, telah membuat perilaku konsumen terutama pada sektor jasa keuangan berubah. Ketiga, persaingan yang semakin tinggi menuntut industri jasa keuangan untuk melakukan kolaborasi.

"Jadi sekarang tidak ada lagi musuh sejati atau kawan sejati, bagaimana bisa bertahan harus ada kolaborasi," katanya dalam Webinar, Selasa (18/8/2020). 

Menurutnya, saat ini lembaga jasa keuangan dituntut untuk sadar dalam melakukan perubahan atas disrupsi yang terjadi. Kemungkinan besar, pelaku industri jasa keuangan tentu mengatakan sedang melakukan perubahan. Sebaliknya, sektor jasa keuangan yang tidak sadar dan melakukan urgensi untuk melakukan transformasi akan dibayangi risiko yang tinggi.

"Bank-bank yang tidak melakukan transformasi atau hanya setengah hati melakukan transformasi, akan terjadi bank ditinggal konsumen kalau bank hanya layani sektor tertentu saja," katanya.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Manusia Bank BCA Lianawaty Suwono mengatakan era digital transformation dan adanya Covid-19 memaksa bank untuk mengakselerasi perubahan. Setidaknya 90% organisiasi saat ini sedang menghadapi tantangan untuk melakukan transformasi.

Di BCA, transformasi bisnis yang dilakukan terbagi dalam lima tahap strategi. Pertama, service excellence yang dilakukan pada 1990. Pada masa itu, BCA fokus memperbaiki layanan.

Kedua, payment setllement bank yang terjadi pada 1996. BCA fokus pada pelyanan yang memberikan solusi pembayaran seperti listrik, air, maupun aktivitas finansial masyarakat lainnya.

Ketiga, transactional bank of choice pada 2004 dengan fokus mempercepat transaksi di cabang. Keempat, relationship banking pada 2020 sebagai strategi atas munculnya bank-bank baru. Kelima, digital banking sejak 2017. BCA bertransformasi dengan fokus pada pengalaman nasabah

"Jadi dulu kita banyak layani nasabah dengan staf-staf, kemudian muncul banyak mesin ATM dan cabang, dan sekarnag nasabah datang lakukan pelayanan sendiri, sekarang sudah banyak mengarah ke mobile self service," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan OJK disrupsi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top