Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mau Asuransi Saat Pandemi, Tapi Takut Jadi Korban Gagal Bayar? Ini Tipsnya

Pada dasarnya proteksi lewat asuransi memang penting dimiliki, terutama di era ketidakpastian akibat pandemi seperti saat ini.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 08 Oktober 2020  |  18:48 WIB
Karyawan beraktifitas di dekat deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 dianggap telah meningkatkan awareness masyarakat terkait asuransi. Namun, di waktu yang sama, minat ini ikut tertekan akibat maraknya kasus gagal bayar.

Certified Financial Planner Finansialku.com Rista Zwestika mengungkap masyarakat sebenarnya tak perlu resah. Pasalnya, pada dasarnya proteksi lewat asuransi memang penting dimiliki, terutama di era ketidakpastian akibat pandemi seperti saat ini.

"Dalam piramida perecanaan keuangan itu ada lima tingkat. Pertama, mengatur cash flow dari sumber income, pengelolaan pengeluaran, hutang, dan dana darurat. Nah, tingkat piramida kedua itu memang keamanan keuangan atau proteksi," jelasnya kepada Bisnis, Kamis (8/10/2020).

Artinya, apabila sudah memenuhi tingkat pertama di masa pandemi ini, asuransi bisa jadi pilihan selanjutnya, sebelum beranjak ke pengelolaan dana investasi, dana pensiun, serta pengelolaan dan distribusi warisan.

Oleh sebab itu, Rista menyarankan langkah pertama yang bisa dilakukan masyarakat, yaitu cek dulu kondisi keuangan. Apakah ada bujet atau tidak, untuk nantinya membayar premi asuransi.

"Kedua, membeli sesuai kemampuan. Jangan dipaksakan, dan usahakan jangan tergiur rayuan tenaga pemasar. Harus sesuai bujet dan tujuan. Mau ambil proteksi keuangan terkait kesehatan, jiwa, penyakit kritis, atau melindungi dana pendidikan anak. Ini harus dikenali betul," tambahnya.

Rista menyarankan bagi masyarakat yang masih dalam taraf ekonomi menengah ke bawah, jangan tergiur untuk ikut asuransi yang dikaitkan dengan investasi atau akrab disebut unit-linked.

Demi kenyamanan arus kas, ada baiknya memisahkan dahulu anggaran untuk proteksi dan investasi. Pasalnya, proteksi menyangkut tujuan jangka menengah dan panjang. Unit-linked akan cocok untuk masyarakat yang telah memiliki kapasitas kenyamanan kas berlebih, atau apabila sudah pernah mengenal dan memiliki beberapa instrumen investasi tersendiri.

"Nah, selanjutnya, pastikan tenaga pemasar cocok dengan kita, dan punya sertifikat dari asosiasi asuransi. Terakhir, ayo baca-baca dan mulai mengenali kinerja para perusahaan asuransi dan produk-produk mereka," jelas Rista.

Menurut Rista, riset kecil-kecilan untuk memilih produk dan perusahaan asuransi yang cocok dengan bujet dan tujuan, merupakan keniscayaan. Terlebih , di tengah maraknya kasus gagal bayar, Rista berharap masyarakat mulai aware dengan kinerja, track record, dan risk based capital (RBC) suatu perusahaan asuransi, sebelum memutuskan untuk membeli produk mereka.

Pada akhirnya, di era pandemi ini di mana bujet terkait 'gaya hidup' notabene bisa ditekan, Rista menganggap tak ada salahnya masyarakat mulai membenahi pos-pos arus kas untuk masa depan. Lewat menyiapkan dana darurat, sedekah atau kegiatan sosial, investasi sesuai profil risiko, serta mulai membangun literasi seiring dengan tumbuhnya minat memiliki asuransi.

"Income itu kita dapat dari kondisi kita yang sehat dan bisa bekerja. Inilah kenapa proteksi itu penting dan worth it. Takutnya, kalau ada apa-apa kan tujuan jangka panjang masih bisa punya peluang untuk tercapai, untuk membuat keluarga lebih nyaman," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi aaui unit linked
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top