Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan Kredit Kendaraan Naik Jelang Lebaran, Leasing Waspadai Potensi NPF

Terlebih, perusahaan pembiayaan harus tetap waspada terhadap calon debitur yang tak serius, menilik adanya fenomena mengambil kredit hanya untuk pulang kampung saja atau hanya untuk 'bergaya' di momen Lebaran, kemudian berpotensi tak lancar bayar cicilan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 07 April 2021  |  23:12 WIB
Multifinance - Istimewa
Multifinance - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Para pelaku industri pembiayaan (multifinance) tetap waspada kendati momentum permintaan kredit kendaraan era new normal, terutama jelang momen Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. 

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menjelaskan kondisi ini menjadi kesempatan para pemain kredit otomotif memperbaiki nilai portofolio aset, di mana merupakan angin segar setelah terdampak pandemi pada periode lalu.

Namun demikian, Suwandi berharap para pelaku tetap berhati-hati, karena belum tentu daya beli masyarakat sudah pulih betul, terutama terkait kemampuan jangka panjang dalam mencicil ke depannya.

"Daya beli calon debitur ini masih harus jadi sorotan. Bahkan yang berkemampuan membayar uang muka cukup tinggi, harus dipastikan lagi keseriusan mereka," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (7/4/2021).

Terlebih, perusahaan pembiayaan harus tetap waspada terhadap calon debitur yang tak serius, menilik adanya fenomena mengambil kredit hanya untuk pulang kampung saja atau hanya untuk 'bergaya' di momen Lebaran, kemudian berpotensi tak lancar bayar cicilan.

Pasalnya, kini kondisi non-performing financing (NPF) industri pun berangsur-angsur telah membaik, yakni 3,93 persen berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2021, dan diharapkan pulih ke depannya hingga kisaran sebelum pandemi.

Sekadar informasi, rekor NPF industri pembiayaan selama pandemi sempat menyentuh angka 5,6 persen, tepatnya per Juli 2020.

"Ini bukan fenomena baru, sejak dulu juga sudah ada. Dengan infrastruktur data kita yang semakin baik lewat terkoneksi di asset registry dan Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK], juga hati-hati lihat riwayat calon debitur, harusnya kasus seperti ini bisa dicegah," tutupnya.

Jodjana Jody, pengamat otomotif sekaligus praktisi industri pembiayaan yang sempat menjadi bos Auto2000 (2010) dan Astra Credit Companies (2015) pun menjelaskan hal serupa.

"Soal konsumen nakal yang manfaatin lebaran bisa aja terjadi. Namun, sekarang parameter penilaian kredit sudah makin lengkap ya, ada SLIK, Pefindo credit rating, asset registry, dan lain-lain. Bad customers sudah akan makin bisa dieliminasi," jelasnya.

Namun demikian, tentunya jangan sampai multifinance terlalu bernafsu untuk aktif booking, walaupun demi memperbaiki asset financing sekalipun.

"Yang pasti, tentunya survey internal tiap credit company mesti baik dan relevan sesuai kondisi terkini, untuk cek apakah aplikasi konsumen sesuai fakta nyatanya," tambah Jody.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance leasing npf
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top