Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dari BVIC hingga BBTN, Semarak Rights Issue Emiten Bank Berlanjut ke Semester II/2022

Pada paruh pertama tahun ini emiten bank mendominasi peneribitan saham baru atau rights issue.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 13 Juni 2022  |  20:41 WIB
Dari BVIC hingga BBTN, Semarak Rights Issue Emiten Bank Berlanjut ke Semester II/2022
Bank Amar Indonesia (AMAR) salah satu emiten bank yang meramaikan aksi penerbitan saham baru atau rights issue pada semester I/2022. - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Aksi penambahan modal melalui mekanisme rights issue oleh emiten perbankan kian semarak jelang paruh kedua tahun ini. Langkah ini selaras dengan tingginya kebutuhan modal untuk melakukan ekspansi kredit hingga memperkokoh bisnis bank digital.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari 10 emiten yang telah melaksanakan penawaran umum terbatas atau rights issue sampai dengan pekan keempat Mei 2022, sebanyak 4 di antaranya berasal dari sektor perbankan.

Keempat emiten bank itu adalah PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR), PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR), dan PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK).

OJK mencatat total nilai emisi di pasar modal mencapai Rp11,98 triliun hingga 27 Mei 2022. Dari nilai itu, keempat emiten bank berkontribusi sebesar Rp7,04 triliun. Nilai ini diperkirakan bertambah menyusul rencana right issue yang digulirkan oleh sederet bank lain.

PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC), misalnya, berencana melakukan rights issue sebanyak 7,04 miliar saham untuk memenuhi ketentuan modal inti pada 2022. Aksi tambah modal ini ditargetkan berlangsung pada pertengahan Agustus mendatang.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Amin Nurdin, menuturkan bahwa seiring terkendalinya pandemi Covid-19, industri akan kembali melakukan pinjaman ke bank baik untuk investasi maupun modal kerja.

Meski kian semarak, Amin berpendapat aksi korporasi tersebut harus diimbangi rencana kerja yang bagus terutama dalam aspek kualitas, serta aset produktif bank. “Jika ada tanda perbaikan dan pertumbuhan yang baik, ini bisa dijadikan pertimbangan,” kata Amin, Senin (13/6/2022).

Selain BVIC, PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) diketahui bakal melakukan Penawaran Umum Terbatas IV (PUT IV) dengan mekanisme rights issue sebanyak-banyaknya 2 miliar saham.

Direktur Utama Bank Ina Perdana Daniel Budirahayu menuturkan rencana aksi penambahan modal melalui rights issue diyakini mampu membawa perseroan mengejar batas minimum modal inti Rp3 triliun yang wajib dipenuhi hingga akhir 2022.

OJK diketahui mewajibkan bank memiliki modal inti Rp3 triliun yang dapat dipenuhi secara bertahap hingga Desember 2022. Kebijakan itu diatur dalam Peraturan OJK No. 12/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum yang dirilis sejak Maret 2020.

Daniel menyatakan dana yang diperoleh dari hasil PUT IV akan digunakan untuk meningkatkan modal kerja pengembangan usaha Bank Ina, sehingga diharapkan memberi dampak positif terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha perseroan.

Di sisi lain, aksi penambahan modal juga diwarnai oleh emiten bank dengan status Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3, yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI (BRIS) dan PT Bank Tabungan Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBTN).

Dalam pemberitaan sebelumnya, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan BSI akan melakukan rights issue senilai Rp5 triliun pada kuartal III/2022. Sementara itu, aksi serupa bakal dilakukan BBTN pada semester II/2022.

Untuk BSI, Tiko sapaan akrabnya, menjelaskan aksi korporasi tersebut untuk memenuhi aturan free float dan ekspansi bisnis perseroan khususnya di industri syariah. Adapun, penambahan modal BBTN bertujuan meningkatkan capital adequacy ratio atau CAR perseroan.

Terkait rencana BSI dan BTN, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, memperkirakan prospek kedua emiten tersebut bakal positif.

Nico menuturkan bahwa untuk BTN aksi penambahan modal tersebut akan mendorong perkembangan perseroan menjadi lebih cepat dan kuat. Apalagi, rights issue diperkirakan mampu mendorong rasio permodalan BTN di kisaran 19 persen.

“Kami meyakini dengan penambahan modal yang terjadi, tentu akan menambah daya dorong bagi BBTN untuk tumbuh dan mencatatkan kinerja yang lebih baik karena didukung dengan permodalan yang kuat,” kata Nico.

Sementara untuk BSI, dia menyampaikan rencana rights issue BSI akan berada di jalur positif seiring dengan besarnya potensi bisnis perseroan di masa kini hingga masa mendatang.

“Kita juga harus melihat potensi bisnis di masa yang akan datang di mana BSI baru saja meresmikan kantor perwakilan BSI di Dubai International Financial Center. Tentu saja hal ini merupakan salah satu langkah yang sangat sangat positif karena BSI bisa mulai mendunia,” tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top