Agitasi Hijrah dan Kapitalisasi Ekonomi Syariah

Dominasi masyarakat muslim di Indonesia memang mengiurkan dikapitalisasi menjadi ekonomi berbasis syariah. Namun, cara-cara eklusif yang masih dilakukan dalam kampanye go hijrah tentu tidak akan menyentuh bagi kalangan menengah bawah, apalagi masyarakat nonmuslim.
M.Richard, Maria Elena & Ipak Ayu
M.Richard, Maria Elena & Ipak Ayu - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  09:43 WIB
Agitasi Hijrah dan Kapitalisasi Ekonomi Syariah
Jamaah Istiqlal. - kemenag.

Bisnis.com, JAKARTA - Populasi muslim yang dominan merupakan salah satu indikator positif untuk tumbuh kembang industri perbankan syariah di Tanah Air. Namun, agaknya potensi tersebut baru dapat dimonetisasi secara baik beberapa tahun belakangan ini.

Hal ini terlihat dari survei kecenderungan penggunaan produk perbankan syariah yang dilakukan Karim Business Consulting pada 2003, An International Bank (By AC Nielsen) pada 2006, dan Maybank Indonesia (By AC Nielsen) pada 2018.

Pada 2003, yakni setelah 12 tahun sejak berdirinya bank syariah pertama di Tanah Air, nasabah loyal perbankan syariah baru mencapai 1%. Adapun sekitar 74% adalah suara mengambang atau masyarakat yang belum memiliki kecenderungan, sedangkan 25% sisanya adalah nasabah yang setia dengan bank konvensional.

Komposisi ini baru dapat berubah total pada 2018. Loyalis bank syariah meningkat menjadi 5%, sedangkan nasabah konvensional yang loyal turun menjadi 13%. Sementara itu, suara mengambang sudah terbelah menjadi dua bagian, yakni 31% yang memiliki kecenderungan terhadap kemudahan dalam layanan, dan 50% memiliki kecenderungan terhadap manfaat material, seperti potongan harga atau bunga simpanan tinggi.

Hasil survei tersebut dapat direpresentasikan oleh dua narasumber yang diwawancarai Bisnis. Ezzy Zadella, seorang tenaga pengajar di lembaga pendidikan swasta yang juga seorang wirausaha, menyampaikan bahwa mulai memiliki ketertarikan pada perbankan syariah.

Dia mengaku saat ini masih menggunakan produk syariah dan konvensional secara bersamaan. "Tapi ke depannya produk perbankan syariah akan lebih dominan saya gunakan," tuturnya, belum lama ini.

Bahkan, dia menyampaikan tidak akan terlalu memperhitungkan besaran bunga yang akan didapat dari simpanannya.

Namun, Ezzy berpendapat pelaku industri perbankan syariah masih belum dapat meyakinkan masyarakat akan keabsahan setiap produk-produknya. Hal itu terlihat dari mayoritas produknya yang tidak jauh berbeda dengan bank konvensional sehingga menimbulkan keraguan.

Hensa Adriano juga menyampaikan hal serupa. Pria yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Ibukota dan memiliki usaha sampingan berupa produk fesyen ini, menyatakan mulai beralih ke produk-produk bank syariah.

Hanya saja, dia menyampaikan memiliki kendala untuk hijrah secara utuh lantaran penetrasi perbankan konvensional yang terlalu tinggi.

"Saya kan juga jual-jual pakaian. Pelanggan yang beli biasanya lebih nyaman menggunakan bank konvensional, dan itu tidak bisa serta merta saya tolak," ucapnya.

Syariah expert BRI Corporate University Murniati Mukhlisin menjelaskan bahwa perkembangan industri syariah memang sangat pesat beberapa tahun terakhir.

"Peningkatan paling signifikan terjadi pada 2018, di mana Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat berubah menjadi syariah, sehingga langsung meningkatkan porsi pasar bank syariah di Indonesia," katanya.

Di luar itu, semua lembaga keuangan syariah, termasuk bank juga cukup gencar melakukan sosialisasi guna meningkatkan literasi keuangan syariah.

Meski demikian, dia tidak menyangkal upaya-upaya yang dilakukan masih sangat terbatas. Sosialisasi yang dilakukan hanya terbatas kepada masyarakat menengah atas, sehingga tidak menyentuh akar permasalahan, yakni masyarakat menengah bawah yang justru lebih membutuhkan produk perbankan syariah.

Selain itu, ekosistem halal selama ini masih belum terbangun dengan baik. Setiap sektor yang memiliki produk dan jasa halal masih harus mengembangkan usahanya sendiri-sendiri.

SUARA MENGAMBANG

Padahal, menurutnya, integrasi yang lebih erat justru akan mempercepat masyarakat yang memiliki kecenderungan terhadap kemudahan layanan untuk diakuisisi oleh perbankan syariah.

"Jika semua sektor dalam ekosistem sudah terintegrasi, maka suara mengambang yang gendut ini juga dengan mudah diakuisisi. Karena pada akhirnya, kita juga dianjurkan untuk menjadi muslim seutuhnya, dan perbankan syariah memiliki kewajiban sebagai fasilitator," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Bidang Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Sutan Emir Hidayat menyampaikan populasi muslim yang besar, atau bahkan tingginya tingkat kealiman masyarakat Indonesia dalam memahami agama tidak serta merta mengartikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki literasi keuangan syariah yang tinggi.

Bahkan, dia juga tidak menampik adanya sedikit kecenderuangan dari syariah loyalis untuk keluar dari sistem keuangan syariah yang justru membuat pangsa pasar perbankann syariah berkurang.

"Kita banyak menemui imam-imam di daerah, tetapi justru pemahamannya terhadap bank syariah rendah. Jadi, sosialisasi perbankan syariah yang masuk dalam hukum muamalat ini, masih harus terus ditingkatkan," katanya.

Dia menyampaikan, KNKS saat ini fokus pada pengembangan produk-produk baru. Pasalnya persepsi masyarakat yang sering menyamakan syariah dan konvensional harus dilawan dengan produk bank syariah yang lebih variatif dan cocok dengan syariah.

"Harusnya banyak produk baru yang dapat mengakomodir kebutuhan nasabah, baik untuk bisnis maupun untuk ibadahnya," katanya.

KUALITAS LAYANAN

Unit Usaha Syariah PT Bank Permata Tbk. (Permata Bank Syariah) akan fokus pada peningkatan kualitas layanan guna menjangkau masyarakat yang telah mulai memiliki preferensi.

Direktur UUS PT Bank Permata Tbk. Herwin Bustaman menyampaikan memang tak memiliki rencana untuk berkompetisi langsung dengan pelaku bank syariah lain, lantaran masyarakat yang mulai memiliki preferensi justru lebih besar.

Dia menyampaikan perseroan saat ini mengembangkan produk digital banking untuk dapat meningkatkan akuisisi nasabah baru. Perseroan berharap dapat menggarap bisnis bank transaksi serta penyaluran pembiayaan ritel.

"Kita memang cari orang yang mulai memiliki preferensi, karena potensi pasarnya jauh lebih luas," ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Kepala Syariah CFS Unit Usaha Syariah PT Bank Maybank Indonesia Tbk Dandy Suprandono. Menurut dia, memang ada tren masyarakat mempelajari agama dengan lebih baik saat ini.

"Tentu kita berharap hal tersebut dapat berlanjut dengan adanya kesadaran masyarakat untuk menggunakan layanan keuangan syariah," katanya kepada Bisnis, Rabu (2/10/2019).

Namun, Dandy menekankan, layanan perbankan syariah bukan hanya untuk masyarakat muslim saja dikarenakan ada beberapa keunggulan layanan perbankan syariah yang secara umum menarik bagi semua kalangan masyarakat.

Dominasi masyarakat muslim di Indonesia memang mengiurkan dikapitalisasi menjadi ekonomi berbasis syariah. Namun, cara-cara eklusif yang masih dilakukan dalam kampanye go hijrah tentu tidak akan menyentuh bagi kalangan menengah bawah, apalagi masyarakat nonmuslim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan syariah

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top