Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hadapi Potensi Lonjakan Pinjaman, Fintech Siapkan Mitigasi Risiko

Perusahaan teknologi finansial (tekfin/fintech) telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memitigasi risiko lonjakan pengajuan kredit saat fase kenormalan baru (new normal).
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  16:28 WIB
Ilustrasi fintech. - Antara/Shutterstock
Ilustrasi fintech. - Antara/Shutterstock

Bisnis.com, JAKARTA – Para perusahaan teknologi finansial (tekfin/fintech) peer-to-peer lending menyiapkan strategi guna menyambut potensi lonjakan pengajuan pinjaman baru saat fase kenormalan baru (new normal) berjalan.

Frecy Ferry Daswaty, VP of Marketing KoinWorks mengakui adanya potensi melonjaknya pengajuan punjaman saat fase kenormalan baru nantinya. Dia optimis bahwa normal baru akan menjadi angin segar bagi industri fintech.

“Sebenarmya lonjakan pinjaman biasanya terjadi dua bulan mnejelang Lebaran karena banyak UKM yang melakukan restock dalam rangka menyambut Lebaran. Namun, dengan adanya new normal ini pasti banyak usaha-usaha UKM yang mulai kembali lagi untuk naik dan berkibar,” jelasnya, Rabu (3/6/2020)

Dia melanjutkan untuk memitigasi risiko akibat melonjaknya pinjaman, pihaknya tengah melakukan analisa pasar. Menurutnya, perusahaan akan melakukan beberapa penilaian kedalam sistem credit scoring kepada calon debitur.

Christopher Gultom, Chief Credit Officer & Co-Founder Akseleran pun mengakui bahwa terkait mitigasi resiko kredit, pihaknya sempat mengalami peningkatan NPL di Agustus 2019 lalu, dikarenakan peningkatan penyaluran pinjaman usaha yang cukup signifikan.

“Namun, semenjak itu, kami tingkatkan credit underwriting standard, dengan mengimplementasikan beberapa standar seperti joint account arrangement bagi penerima pinjaman. Sehingga dapat dilihat dari Desember 2019 sampai saat ini, tingkat kredit macet membaik dan cenderung stabil,” jelasnya.

Khusus untuk masa pandemi ini, dia mengatakan pihaknya akan meningkatkan sistem credit underwriting standard kembali, di mana pihaknya lebih memilih untuk membiayai invoice financing dibandingkan receivable financing.

“Bukan berarti receivable financing tidak bisa, tetapi harapannya dengan meningkatkan fokus penyaluran menjadi invoice financing, risiko kredit yang ada menjadi lebih kecil. Dalam 2 bulan terakhir, outstanding dan penyaluran invoice financing di Akseleran lebih besar daripada PO financing, yang artinya mitigasi risiko yang baru tersebut sudah terimplementasi dengan baik,” jelasnya,

Dia juga optimis tingkat NPL Akseleran akan tetap terjaga di bawah 1 persen hingga akhir tahun 2020. Dia mengklaim bahwa hingga akhir Mei, tingkat nonperforming loan (NPL) pihaknya berada di angka 0,67 persen dari total penyaluran pinjaman usaha, atau turun 0,03 persen dibandingkan NPL akhir April 2020.

“Harapannya, dengan memasuki fase new normal di bulan Juni, kami mengharapkan sudah ada peningkatan penyaluran pinjaman yang cukup signifikan di bulan Juni ini, mungkin di angka 35 persen dan terus belanjut sampai dengan akhir tahun,” jelasnya.

Ketua Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis Universitas Negeri Jakarta Dianta Sebayang pun memprediksi saat protokol normal baru hadir, fintech penyaluran pinjaman akan meningkat hingga 30 persen. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penyaluran kredit fintech Tekfin P2P Landing
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top