Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Piutang Multifinance, Sudah Tergerus Kena Restrukturisasi Pula!

Nilai penurunan piutang pembiayaan netto terjun hingga 18,23 persen dari Rp452,21 triliun pada 2019 menjadi Rp369,75 triliun per akhir Desember 2020.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 31 Januari 2021  |  21:03 WIB
Ilustrasi - Istimewa
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah memukul kinerja piutang perusahaan pembiayaan sepanjang 2020. Selain terjun bebas, persentase restrukturisasi piutang multifinance terbilang fantastis.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai penurunan piutang pembiayaan netto terjun hingga 18,23 persen (year-on-year/yoy), dari Rp452,21 triliun pada 2019 menjadi Rp369,75 triliun per akhir Desember 2020.

Pembiayaan investasi dengan nilai Rp110,95 anjlok 17,7 persen (yoy), pembiayaan modal kerja dengan nilai Rp24,63 triliun anjlok 6,95 persen (yoy).

Adapun, pembiayaan multiguna yang besarannya masih menjadi penopang dominasi industri, tercatat anjlok 19,05 persen (yoy) dengan nilai Rp222,46 triliun.

Segmen yang masuk pembiayaan lain-lain justru tumbuh 11,01 persen (yoy), walaupun nilainya terbilang mini, hanya Rp176 miliar.

Sementara pembiayaan syariah sebesar Rp11,52 triliun, anjlok paling dalam hingga 27,62 persen.

Mewakili otoritas, Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B OJK Bambang W. Budiawan berharap periode 2021 menjadi masa turn around perbaikan kinerja industri pembiayaan, yang notabene telah banyak berkorban.

Berdasarkan catatan OJK, restrukturisasi multifinance telah mencapai Rp189,96 triliun dari 5 juta kontrak pembiayaan. Hal itu berarti mengambil porsi 48,52 persen dari total piutang pembiayaan.

"Dengan financing growth sampai negatif 18 persen sepanjang 2020, harapannya ke depan funding perbankan tidak seret, funding dari penerbitan surat utang lancar, niche market masih cukup terbuka. Ini untuk mendorong, paling tidak, bisa tumbuh 1 sampai 3 persen, sudah cukup bagus," jelasnya kepada Bisnis, Minggu (31/1/2021).

Namun, dengan kondisi pandemi dan perekonomian yang belum pasti, Bambang mengingatkan kalangan multifinance bersiap membaca arah skenario piutang restrukturisasi ke depannya.

Apakah flat atau justru ada tambahan baru, walaupun besar harapan kondisi perekonomian membaik dan para nasabah restrukturisasi mulai berkomitmen meneruskan pelunasan.

Adapun, piutang kelolaan multifinance sepanjang 2020 ditutup di angka Rp393,92 triliun atau turun 16,06 persen (yoy).

Hal itu terjadi akibat lini andalan objek pembiayaan terbesarnya seperti alat berat, mobil pengangkutan, otomotif konsumtif, serta elektronik dan rumah tangga masih loyo. Semua tampak turun di atas 16 persen.

Beberapa piutang kelolaan dengan jumlah besar yang masih tampak naik hanya disumbang pembiayaan investasi ke properti, seperti pembiayaan gedung yang ditutup di Rp1,31 triliun (10,98 persen), rumah toko baru Rp3,57 triliun (595,38 persen), rumah toko bekas Rp343 miliar (34,21 persen).

Selain itu, barang konsumsi kategori rumah tinggal baru kedua Rp154 miliar (14,83 persen), barang konsumsi kategori lain-lain Rp4,35 triliun (0,16 persen) dan piutang usaha Rp4,33 triliun (0,34 persen).

Adapun dari sisi sektor perekonomian, piutang pembiayaan kelolaan yang tampak masih naik hanya sektor Real estat (2,79 persen), Aktivitas profesional, ilmiah & teknis (145,94 persen), dan Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (2,52 persen).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan OJK
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top