Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bank Jatim (BJTM) Kantongi Laba Rp815,3 Miliar pada Semester I/2022

Penopang laba bersih Bank Jatim (BJTM) adalah pendapatan bunga yang naik sebesar 8 persen yoy menjadi Rp3,35 triliun.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 28 Juli 2022  |  19:33 WIB
Bank Jatim (BJTM) Kantongi Laba Rp815,3 Miliar pada Semester I/2022
Busrul Iman, Direktur Utama Bank Jatim saat memberikan penjelasan dalam konferensi pers Kamis (22/10/2020). - Bisnis/Peni Widarti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) atau Bank Jatim mencatatkan laba bersih tahun berjalan hingga akhir Juni 2022 sebesar Rp815,3 miliar atau tumbuh tipis satu persen secara year-on-year (yoy).

Berdasarkan publikasi di Harian Bisnis Indonesia, Kamis (28/7/2022), penopang laba bersih datang dari kenaikan pendapatan bunga sebesar 8 persen yoy menjadi Rp3,35 triliun. Pada saat bersamaan, beban bunga perseroan menyusut 2 persen secara tahunan menjadi Rp970,7 miliar.

Dengan demikian, emiten berkode saham BJTM tersebut membukukan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp2,37 triliun. Jumlah tersebut meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp2,19 triliun.

Sampai dengan semester I/2022, perseroan tercatat menyalurkan kredit sebanyak Rp41,65 triliun. Angka tersebut naik tipis sebesar 2 persen secara year-to-date (ytd) dibandingkan dengan realisasi kredit pada akhir Desember 2021 yang mencapai Rp40,98 triliun.

Adapun, pembiayaan syariah menyumbang Rp1,88 triliun. Artinya, jika ditambahkan dengan pembiayaan tersebut, maka kredit yang dibukukan Bank Jatim mencapai Rp43,54 triliun.

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman memerinci bahwa kredit konsumer naik 1,21 persen yoy dari Rp27,24 triliun menjadi Rp27,57 triliun. Segmen ini berkontribusi sebesar 63,34 persen dari total kredit perseroan.

Di sisi lain, Bank Jatim mencatat kredit pemilikan rumah atau KPR mengalami kontraksi sebesar 2,53 persen yoy dari semula Rp2,53 triliun menjadi Rp2,46 triliun.

“Dari kredit konsumer yang mengalami penurunan negatif itu adalah KPR atau mortgage. Ini yang memang harus kami dorong, karena kami lebih fokus kepada multiguna,” kata Busrul di Jakarta, Senin (25/7/2022).

Selain itu, penyaluran kredit komersial naik 0,26 persen yoy menjadi Rp10,63 triliun. Segmen komersial turut mengalami kontraksi, salah satunya pada kredit sindikasi yang menyusut 4,16 persen yoy dari Rp4,37 triliun menjadi Rp4,18 triliun.

“Komersial ini sektor besar yang terdampak langsung dengan pengaruh dari Covid-19 yang lalu dan sekarang pun masih dirasakan. Makanya, restrukturisasi di sektor ini masih tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, total kredit UKM naik 12,40 persen yoy dari Rp4,72 triliun menjadi Rp5,3 triliun. Kredit UKM berkontribusi atas 12,18 persen dari total kredit perseroan.

Busrul menyampaikan kontraksi tajam terjadi di segmen mikro, yakni turun 28,33 persen yoy menuju Rp1,12 triliun atau Rp1,56 pada periode yang sama tahun lalu.

Meski terdapat beberapa segmen yang menurun pada kredit SME, Busrul mengatakan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) mengalami pertumbuhan yang tinggi, yakni sebesar 2.145,06 persen. Itu naik dari Rp64 miliar menjadi Rp1,44 triliun pada periode Juni 2022.

Sementara itu, dari sisi penghimpunan dana masyarakat, Bank Jatim mampu mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebanyak Rp94,90 triliun, naik sebesar 14 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh deposito yang tumbuh 35 persen yoy menjadi Rp43,78 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank jatim bpd perbankan
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top