Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kredit Valas Bank Tetap Ngegas saat Rupiah Lesu di Hadapan Dolar AS

Kredit valas bank tercatat Rp545,03 triliun pada Januari 2024, tumbuh 16,93% secara tahunan (year on year/yoy).
Ilustrasi kredit valas bank/Dok. Freepik
Ilustrasi kredit valas bank/Dok. Freepik

Bisnis.com, JAKARTA -- Penyaluran kredit valas (valuta asing) di perbankan mengalami pertumbuhan pesat pada awal tahun ini. Di tengah kondisi tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ambrol ke level Rp16.000.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini, penyaluran kredit kepada pihak ketiga dengan valas mencapai Rp545,03 triliun pada Januari 2024, tumbuh 16,93% secara tahunan (year on year/yoy). 

Adapun, kredit valas pun tumbuh dibandingkan bulan sebelumnya atau Desember 2023 yang mencapai Rp534,26 triliun. 

Meningkatnya kredit valas terjadi di tengah tren melemahnya rupiah pada awal tahun ini. Mengacu data Bloomberg pada perdagangan terakhir jelang libur lebaran (5/4/2024), rupiah ditutup di level Rp15.848. Sementara, pada perdagangan awal tahun, per 2 Januari 2024 rupiah masih di level Rp15.390.

Berdasarkan data Google Finance, rupiah bahkan bercokol di level Rp16.009 per dolar AS pada saat ini, Senin (15/4/2024). Rupiah mulai menyentuh level Rp16.000 pada perdagangan pekan lalu (10/4/2024). 

Adapun, jika ditarik mundur mengacu data Google Finance, nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat menembus Rp16.000 pada 3 April 2020. Kala itu nilai tukar mata uang Indonesia menembus Rp16.300 per dolar AS. 

Data Google Finance tersebut memang menunjukan pergerakan rupiah secara internasional. Sebab, perdagangan domestik pada momen lebaran sedang libur.  

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan bagi perbankan, terdapat salah satu hal yang mesti diwaspadai dari tren melemahnya rupiah itu. "Bagi bank tentu yang utama adalah ancaman peningkatan NPL [nonperforming loan/NPL] yang dapat menggerus laba bank," katanya kepada Bisnis pada Senin (15/4/2024).

Sebelumnya, Senior Faculty LPPI Amin Nurdin juga mengatakan lesunya rupiah mampu menyengat bank-bank yang punya kepentingan atau portofolio bisnis luar negeri yang banyak. 

"Bank-bank yang terkait aktivitas treasury, trade financing, aktivitas international banking, portofolionya di valuta asing besar, ini rawan terdampak," tuturnya.

Menurutnya, rata-rata bank yang mempunyai portofolio bisnis luar negeri besar adalah bank-bank jumbo. 

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Darmawan Junaidi juga sempat mengatakan bahwa lesunya rupiah berpotensi meningkatkan risiko kredit pada debitur dengan pinjaman valas.

Dia pun menyebut untuk bisa mengantisipasi risiko ini, perbankan mesti memonitor secara disiplin debitur valuta asing yang pendapatannya dalam rupiah untuk memastikan kemampuan membayar atau repayment capacity dari debitur.

“Karena secara ekuivalen rupiah, maka nilai kewajiban debitur menjadi semakin besar, tapi kami sudah memperhitungkan, di mana sebagai langkah antisipatif, kami punya early warning system untuk mendeteksi potensi penurunan kinerja debitur,” ujarnya dalam paparan kinerja pada tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper